BEM Unsoed — Telah dilaksanakan Sekolah Politik Pergerakan (SPP) 2026 oleh Kementerian Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Akspro BEM Unsoed). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada hari Sabtu (24/10) dan hari Minggu (25/10), mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai. SPP hari pertama dilaksanakan di Aula Gedung Lama Fakultas Biologi (Fabio) Unsoed, sedangkan hari kedua dilaksanakan di Ruang J102 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unsoed.
SPP merupakan program kerja yang berisi pelatihan bagi mahasiswa untuk memahami sejarah dan strategi gerakan, isu sosial politik, serta keterampilan praktis dalam mengorganisasi massa hingga mengeskalasikan gerakan. Melalui kegiatan ini, BEM Unsoed berharap lahir kader-kader pergerakan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar Unsoed yang tanggap dalam merespons persoalan sosial. Kegiatan ini juga diharapkan mampu membuat mahasiswa menjalankan perannya sebagai penyambung lidah masyarakat sekaligus agent of change, social control, iron stock, guardian of value, dan moral force. Peserta SPP ini terdiri dari mahasiswa Unsoed dan perguruan tinggi lain di wilayah Purwokerto yang memiliki ketertarikan terhadap isu sosial-politik, pendidikan kritis, advokasi, hingga gerakan mahasiswa.

(Sumber: Kementerian Aksi dan propaganda)
Sebelum hari-H, peserta dibagi menjadi lima kelompok untuk mengikuti Forum Group Discussion (FGD) bersama pendamping masing-masing. Peserta mengikuti dua kali FGD dan studi lapangan untuk menyusun tugas Analisis Sosial, yang kemudian dipresentasikan dalam sesi materi Analisis Sosial agar peserta memperoleh pemahaman mendalam berdasarkan fakta lapangan di Banyumas.
Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada penguatan pemahaman konseptual melalui tiga materi, yaitu Sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia, Analisis Sosial, serta Advokasi dan Bantuan Hukum. Hari kedua diisi dengan materi Strategi dan Taktik Gerakan, lalu dilanjutkan dengan Simulasi Aksi sebagai ruang penerapan materi. Dalam simulasi tersebut, peserta terlibat langsung dalam tahap konsolidasi, penyusunan strategi dan pembagian peran, persiapan teknis lapangan, hingga pelaksanaan aksi secara simulatif. Seluruh materi disampaikan oleh empat narasumber yang ahli di bidangnya dan disusun bertahap agar peserta memahami keterkaitan antara persoalan sosial di masyarakat, sejarah perjuangan mahasiswa, upaya advokasi, serta strategi membangun gerakan.

(Sumber: Kementerian Aksi dan propaganda)
Kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan kondusif. Melalui SPP 2026, harapannya mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga mampu menumbuhkan pemahaman kritis, kemampuan menganalisis dan merekayasa sosial, serta kesadaran hukum sebagai dasar untuk menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
Penulis: Kementerian Aksi dan Propaganda
Editor: Angely Puspita Sari