Category: BETTER : BEM Newsletter

BETTER #109: Aksine Kepriwe Chaos?

Posted: 16 Oktober 2020
Comments: 0


Massa aksi melakukan konvoi menuju gedung DPRD Banyumas.
(Sumber: Kementerian Media Aplikatif)




Kepriwe Lur, sehat selamat kan? Gimana aksi kemarin, kok bisa sampai chaos?





Alhamdulillah sehat dan aman Lur. Aku jelasin dari awal ya.





Kamis (16/07/2020) kemarin, telah digelar Aksi Jilid II Banyumas #CabutOmnibusLaw. Massa aksi berangkat konvoi dari titik kumpul PKM Unsoed menuju Masjid 17 Purwokerto dan dilanjutkan dengan long march menuju depan kantor DPRD Banyumas pukul 13.30 WIB.





Pukul 14.05 WIB, massa aksi sampai di depan kantor DPRD yang kemudian disusul kedatangan Koalisi Masyarakat Banyumas (Kombas) pada pukul 14.17 WIB.





Mantep! Ramean dong berarti?





Iya, Lur! Massa aksi yang hadir diperkirakan mencapai 1000-2000 orang. Banyaknya massa aksi semakin membuktikan persoalan Omnibus Law ini adalah persoalan bersama seluruh masyarakat, termasuk juga masyarakat Banyumas.





Pada aksi kali ini, selain diramaikan dengan orasi dari berbagai perwakilan organisasi dan ormas, pengibaran bendera merah putih setengah tiang juga dilakukan sebagai tanda duka pada wakil rakyat dan UU Cipta Kerja Omnibus Law. Pengibaran bendera setengah tiang dilakukan pada pukul 14.34 WIB.





Pukul 14.45 WIB, massa aksi melakukan sholat ashar berjamaah di depan kantor DPRD Banyumas. Setelah sholat berjamaah, orasi kembali dilakukan secara bergantian oleh perwakilan mahasiswa dan Kombas. Akhirnya, pada 15.50 WIB, Bupati Banyumas, Achmad Husein, menemui massa aksi.





Weh, terus gimana tanggapan dari Pak Bupati?





Lugas Ichtiar, yang merupakan Presiden BEM Unsoed 2020 dan perwakilan dari massa aksi langsung menyampaikan tuntutan kepada Pak Bupati ketika beliau keluar. Tuntutan yang dibawa pada aksi ini berbunyi: DPRD dan Bupati menyatakan menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang telah disahkan oleh pemerintah pusat dan Desan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).





Sayangnya Pak Bupati, dihadapan seluruh massa aksi memutuskan untuk menolak menandatangani tuntutan yang dibawa. "Kalau jendela yang rusak, kenapa satu rumah yang harus dihancurkan. Kabupaten Banyumas merupakan anak dari pemerintah pusat Aksi terus berlanjut hingga malam karena tuntutan massa aksi belum juga disetujui. Hingga ahirnya pada pukul 19.28 WIB massa aksi dipukul mundur dan dibubarkan secara paksa dengan semprotan water cannon yang disusul gas air mata.









Massa aksi di depan kantor DPRD Banyumas
(Sumber: Kementerian Media Aplikatif
)




Tapi bukannya pas aksi pertama tuntutane juga wis disetujui?





Jadi pas aksi pertama anggota DPRD memang menandatangi surat tuntutan aksi. Namun bukan pernyataan untuk menolak Omnibus Law, melainkan sepakat untuk menyampaikan tuntutan masa aksi ke pusat, Lur!





Penyampaian orasi oleh Menteri Koordinator Politik Pergerakan BEM Unsoed, Fakhrul Firdausi.
(Sumber: Kementerian Media Aplikatif)




Lha kuwe bupatine sempat muncul, ngapain kuwe?





Bupati Banyumas, Achmad Husein, memang memang sempat menemui massa aksi. Beliau menyampaikan bahwa beliau akan menyampaikan tuntutan massa aksi ke pemerintah pusat namun tidak menyatakan sikap untuk menolak Omnibus Law.





“Akan kami sampaikan tuntutan kalian, akan kami antar tuntutan kalian, baik itu ke DPRD atau ke pemerintah pusat," ujarnya.





Bupati banyumas menemui massa aksi.
(Sumber: Kementerian Media Aplikatif)




Awalnya aksi emang kapan kok udah Jilid II aja kemarin?





Jadi gini alurnya, pada Kamis (16/7) pertama kali massa aksi atas nama Aliansi SEMARAK menyerahkan naskah kajian ke DPRD Banyumas. Setelah disahkannya Omnibus Law pada Senin (5/10) lalu, massa pun melakukan penolakan dengan turun ke jalan Rabu (7/10). Kala itu, DPRD berkomitmen untuk menyampaikan tuntutan massa aksi ke Presiden RI Dan DPRD-RI.  Dan pada Kamis (15/10) kemarin digelarlah Aksi Jilid II Banyumas #CabutOmnibusLaw.  





Terus abis ini, mau aksi lagi?





Karena tuntutan belum juga disetujui oleh DPRD dan Bupati Banyumas, Korlap Aksi, Fakhrul Firdausi, menyatakan untuk tindak lanjut dari aksi ini akan dibahas pada konsolidasi bersama Aliansi SEMARAK Banyumas. “Nanti akan kita coba bahas di konsolidasi dan evaluasi aksi," ujar Fakhrul saat kami temui.









Omnibus Law, pokoke harus dijegal sampai gagal. Jangan kasih kendor Lur!





Hidup mahasiswa!





Hidup buruh Indonesia!





Hidup rakyat Indonesia!









Penulis : Fauziah Nur Fitriani









BETTER (BEM Newsletter) adalah layanan berita terkini mengenai Unsoed, isu-isu nasional, dan internasional. Dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, BETTER bakal hadir setiap hari Senin-Kamis biar kamu update informasi selalu!





Punya saran dan masukan untuk BETTER? Tulis disini ya!


Tags: , , ,

Post Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.