BEM Unsoed — Telah dilaksanakan salah satu program kerja Kementerian Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Akspro BEM Unsoed) 2025, yaitu Aksi Kamisan pada hari Kamis (11/09) pukul 16.00—18.00 WIB di Tugu Pembangunan. Aksi ini merupakan bentuk perlawanan terbuka terhadap kemunduran demokrasi dan perampasan kedaulatan rakyat yang semakin nyata. Aksi Kamisan adalah aksi damai yang digelar secara rutin sebagai bentuk perlawanan terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan ketidakadilan yang masih terjadi di Indonesia, khususnya terkait kasus pembunuhan Munir Said Thalib.

(Sumber: Kementerian Aksi dan Propaganda)
Diselenggarakan oleh Aksi Kamisan Purwokerto, aksi ini menjadi wadah bagi masyarakat sipil, aktivis, dan mahasiswa untuk menyuarakan tuntutan keadilan, transparansi, serta penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Melalui mimbar bebas, pembacaan puisi, dan orasi guna menegaskan komitmen bersama untuk menolak impunitas serta menuntut pemerintah agar serius menangani kasus-kasus pelanggaran HAM. Aksi Kamisan Munir menjadi simbol keberanian rakyat dalam menghadapi kegelapan dan ketidakadilan yang mengancam demokrasi serta kemanusiaan.

(Sumber: Kementerian Aksi dan Propaganda)
Rangkaian acara Aksi Kamisan diawali dengan pembentangan banner perlawanan sebagai simbol kritik terhadap ketidakadilan yang terus terjadi. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan mimbar bebas yang diisi oleh perwakilan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil sebagai ruang untuk menyuarakan aspirasi serta keresahan. Dalam momentum tersebut juga disampaikan orasi-orasi tematik yang menyoroti isu politik, demokrasi, hukum, dan sejarah. Sekaligus menegaskan sikap kritis terhadap praktik impunitas yang masih mengakar.
Acara ditutup dengan pembacaan doa untuk mengenang korban pelanggaran HAM dan meneguhkan tekad perjuangan dalam menuntut kebenaran serta keadilan di Indonesia. Aksi ini diikuti oleh aliansi mahasiswa dan masyarakat Banyumas.
Aksi berlangsung secara tertib, damai, dan penuh semangat perlawanan. Para peserta mengenakan pakaian hitam sebagai simbol duka serta solidaritas, dan membawa spanduk yang berisi kritik hingga tuntutan keadilan.
Penulis: Kementerian Aksi dan Propaganda
Editor: Aura Iklasia Pasha R.