Halo, Sobat Gensoed!
Akhirnya, masa Ujian Tengah Semester (UTS) selesai juga! Bagaimana, nih, Sob, apakah pikiran sudah kembali tenang atau masih terbayang soal-soal ujian kemarin? Selamat beristirahat dan melepas penat, ya, Sobat! Eits, meski sedang menikmati waktu istirahat, jangan sampai ketinggalan informasi terkini. Nah, Mimin sudah menyiapkan berbagai informasi pilihan untuk menemani Sobat minggu ini, lho!
Yuk, kita simak bersama!
Banjir Bandang Terjang Padang: Ratusan Warga Terdampak dan Akses Jalan Terputus

(Sumber: TVRI Sumatra Barat)
Banjir bandang melanda Kota Padang, Sumatra Barat pada hari Sabtu (10/10) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari. Luapan Sungai Lubuk Minturun merendam permukiman di Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo, mengakibatkan kerusakan rumah serta terputusnya akses jalan.
Waduh … seberapa parah dampak dari kejadian ini, Min?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat 498 jiwa atau sekitar 225 kepala keluarga terdampak dan 120 rumah terendam. Lima rumah di Kuranji mengalami kerusakan, terdiri atas empat rumah rusak sedang dan satu rumah rusak berat.
Guo di Kuranji, Lumin Park, dan Kampung Aua di Koto Tangah menjadi lokasi yang terdampak paling parah. Sejumlah warga bahkan menyelamatkan diri ke loteng rumah. Meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, beberapa rumah masih tertimbun lumpur setelah air surut.
Bagaimana proses evakuasi dan penanganannya?
Tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang terdiri atas BPBD, Tim Reaksi Cepat (TRC), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), juga Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dikerahkan untuk mengevakuasi warga. Terhitung pada hari Minggu (11/10), tim SAR gabungan telah mengevakuasi 238 warga dengan memprioritaskan anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga yang sakit.
BPBD juga mendistribusikan 9.000 liter air bersih dan 100 selimut, sementara pemerintah menyalurkan bantuan makanan. Personel kepolisian bersama warga turut bergotong royong membersihkan lumpur.
Kira-kira apa, sih, penyebab banjir ini bisa terjadi?
Sebetulnya, Sob, banjir ini merupakan kejadian ketiga di Padang dalam setahun terakhir, setelah banjir pada November 2025 dan Agustus 2026. Selain hujan deras, drainase yang kurang memadai dan penyempitan sungai akibat sisa material banjir sebelumnya turut memperburuk kondisi. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Barat juga mencatat hilangnya sekitar 700 hektare tutupan hutan sepanjang 1995–2024. Berkurangnya tutupan hutan ini dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan sehingga meningkatkan risiko banjir.
Warga juga mengeluhkan sistem early warning system (EWS) yang tidak berfungsi saat air bah datang. Salah seorang warga mengaku terjebak sekitar dua jam sebelum diselamatkan tim SAR. Sirene yang seharusnya memperingatkan warga juga tidak berbunyi.
Lalu, bagaimana upaya untuk mengurangi risiko banjir ke depannya?
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang telah menyelesaikan tanggul darurat sepanjang 200 meter dengan tinggi sekitar 3 meter di kawasan Lumin Park. Pemerintah juga menyiapkan rehabilitasi dan rekonstruksi Sungai Batang Air Dingin serta Sungai Batang Kuranji.
BPBD mengimbau warga di sekitar sungai dan kawasan rawan bencana untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, longsor, serta pohon tumbang.
Mimin turut prihatin atas musibah ini, Sob. Semoga pemulihan berjalan lancar dan kepedulian terhadap lingkungan semakin meningkat!
Dampak Karhutla Kian Meluas! Kabut Asap Lintas Negara Picu Desakan Penetapan Bencana Nasional

(Sumber: detik.com)
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia belum juga reda. Hingga hari Jumat (16/10), asap tebal masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan, bahkan terbawa hingga ke negara tetangga.
Seberapa parah dampaknya untuk kesehatan warga, Min?
Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada hari Rabu (14/10) mencatat sedikitnya 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 63.711 kasus di antaranya dialami oleh balita.
Selain kesehatan, dampak apa lagi yang dirasakan?
Kabut asap mengganggu pendidikan, transportasi, dan perekonomian. Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran daring atau diliburkan, sedangkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat 1.673 penerbangan terdampak. Pedagang UMKM dan pengemudi ojek online (ojol) juga tetap bekerja di tengah paparan asap. Selain itu, warga kesulitan memperoleh air bersih, masker, dan layanan kesehatan. Kebakaran pun turut mengancam ekosistem lingkungan, termasuk habitat orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Di Papua, lebih dari 25.000 hektare lahan dilaporkan terbakar sepanjang 2026. Di beberapa wilayah, terutama Kalimantan Tengah, langit tampak oranye akibat tebalnya asap, bahkan saat malam tiba. Warga seolah terkurung di dalam ruangan yang dipenuhi asap tanpa tempat untuk menghindar.
Negara tetangga sampai kena imbasnya juga, Min?
Betul, Sob. Kabut asap dari Indonesia turut memengaruhi kualitas udara Singapura, memicu penutupan sekolah di sejumlah wilayah Malaysia, serta mengganggu penerbangan Malaysia–Singapura. Asap juga dilaporkan telah mencapai Filipina dan Vietnam. Bahkan, warga Malaysia menggelar aksi protes akan dampak karhutla Indonesia pada Malaysia di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur pada hari Jumat (04/09) lalu.
Lantas, apa saja langkah penanganan yang diambil oleh pemerintah?
Presiden Prabowo memerintahkan percepatan pemadaman di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Pemerintah mengklaim telah mengerahkan lebih dari 60.000 personel gabungan, operasi water bombing, dan modifikasi cuaca.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa pemerintah belum berencana menetapkan karhutla sebagai bencana nasional karena ia menilai bahwa negara masih mampu menanganinya. Sekretaris Kabinet juga menyebut bahwa tingkat keberhasilan pemadaman rata-rata di atas 80% per hari.
Kabar baiknya, hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Palangka Raya sejak hari Kamis (15/10) sore. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan tersebut dipengaruhi pertumbuhan awan konvektif serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hujan tersebut diharapkan dapat membantu pemadaman dan mengurangi polusi udara. Meski begitu, penanganan tetap perlu diperkuat karena dampak kabut asap masih dirasakan oleh ribuan warga di berbagai wilayah.
Duh, semoga pemerintah segera menuntaskan penanganan karhutla agar warga bisa kembali beraktivitas dengan aman, ya, Sob.
Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswa Unsoed Jadi Perhatian, Bagaimana Respons Kampus?

(Sumber: whiteboardjournal.com)
Kasus kekerasan seksual (KS) di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang baru-baru ini terjadi menjadi perhatian mahasiswa. Proses penanganan yang dinilai berlarut-larut memunculkan desakan agar pihak kampus segera memberikan kejelasan terkait penyelesaian kasus dan perlindungan korban.
Wah, sebenarnya apa yang sedang terjadi, sih, Min?
Kasus ini mencakup dugaan kekerasan seksual secara fisik, catcalling, serta pemaksaan untuk mengajak sejumlah perempuan pergi berdua. Demi menjaga privasi dan keamanan korban, identitas serta detail pribadi yang tidak diperlukan tidak dicantumkan.
Nah, kalau begitu, bagaimana perkembangan penanganannya sejauh ini?
Proses penanganan disebut menghadapi kendala birokrasi, keterbatasan kewenangan, serta regulasi terkait penjatuhan sanksi. Pihak berwenang juga disebut telah beberapa kali memberikan pernyataan mengenai keterbatasan dalam penanganan kasus. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi lamanya penyelesaian kasus.
Apa saja, sih, yang menjadi tuntutan dari mahasiswa?
Di tengah beragamnya respons mahasiswa, terdapat harapan bersama agar kasus segera dituntaskan dan sanksi tegas diberikan kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Berbagai upaya penyampaian aspirasi dan advokasi telah dilakukan oleh organisasi mahasiswa (ormawa), meskipun ormawa memiliki keterbatasan kewenangan dalam proses penanganan formal.
Selain itu, mahasiswa mendorong penguatan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus, dimulai dari edukasi wajib dan berkala bagi seluruh sivitas akademika tentang consent, relasi kuasa, dan mekanisme pelaporan. Upaya tersebut perlu didukung sosialisasi kanal pengaduan yang mudah diakses serta penguatan kapasitas Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) agar penanganan kasus berjalan optimal.
Lalu, apa yang perlu menjadi perhatian bersama, Min?
Penanganan kasus kekerasan seksual membutuhkan kejelasan prosedur, tindak lanjut yang dapat dipertanggungjawabkan, serta perlindungan korban sebagai prioritas. Mahasiswa berharap pihak kampus dapat memberikan respons konkret agar penanganan tidak terus berlarut-larut dan lingkungan kampus menjadi lebih aman bagi seluruh sivitas akademika.
Semoga suara dan aspirasi yang terus disuarakan bisa mendorong langkah nyata dari pihak terkait, ya, Sob!
Penulis: Azizah Fatma Haifa Chairunnisa dan Shakira Alfiatu Rizka