Halo, Sobat Gensoed!
Gimana, nih, kabarnya? Semoga tetap bahagia di tengah gempuran UTS yang ada, ya! Tetap tersenyum, walau hujan tak kunjung turun. As always, Mimin sudah menyajikan berita-berita terbaru di minggu ini bagi Sobat semua.
Yuk, kita simak beritanya satu-persatu!
Sejarah Tercipta! Indonesia Bawa Pulang Trofi FIFA ASEAN Cup 2026

(Sumber: detiksport.com)
Timnas Indonesia resmi mengakhiri puasa gelar di Asia Tenggara selama 35 tahun, setelah resmi menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 pada partai puncak yang digelar hari Senin (05/10). Kali ini Timnas Indonesia tampil memukau sejak fase grup hingga partai final. Kemenangan ini menegaskan bahwa dominasi yang tercipta bukan lagi kebetulan, melainkan buah dari perbaikan sistem kompetisi dan regenerasi pemain yang baik.
Lantas, faktor apa yang menjadi kunci utama keberhasilan Timnas Indonesia kali ini, Min?
Secara teknis, keberhasilan Indonesia bersumber dari kedalaman skuad dan fleksibilitas taktik yang matang. Tidak ada lagi ketergantungan pada satu-dua pemain bintang; rotasi berjalan efektif tanpa menurunkan kualitas permainan. Transisi cepat dari bertahan ke menyerang serta disiplin posisi para pemain berhasil mengunci pergerakan tim lawan sepanjang pertandingan.
Setelah Indonesia mendapatkan trofi, apa nih yang berubah, Sob?
Perubahan utama terlihat pada bergesernya peta kekuatan sepak bola regional. Indonesia resmi melepas julukan runner-up abadi, dan menetapkan standar baru bagi sepak bola ASEAN. Kemenangan ini menjadi bekal yang berarti untuk melangkah lebih jauh ke level Asia dan kualifikasi tingkat dunia mendatang
Semoga dari berita bahagia ini bisa memotivasi kita semua ya!
Janji Pendidikan Gratis Dipertanyakan, BEM SI Gelar Aksi di Depan Gedung DPR

(Sumber: megapolitan.kompas.com)
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi pada hari Senin (05/10) di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Jakarta Pusat. Aksi ini bertujuan untuk menagih janji pendidikan gratis sekaligus mendesak pengesahan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).
Waduh, apa yang membuat BEM SI turun aksi lagi, Min?
Aksi ini merupakan lanjutan dari rangkaian demonstrasi BEM SI sebelumnya di depan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta DPR RI. Koordinator Wilayah BEM SI Jabodetabek Banten, Adelia Afifatuzzahra, menyebut mahasiswa ingin menagih komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menggratiskan pendidikan mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga perguruan tinggi. Adelia turut menyoroti alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dinilai belum dikelola secara merata. Besarnya anggaran perlu diikuti pemerataan akses pendidikan agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. BEM SI turut mendesak pemerintah untuk memastikan anggaran tersebut tidak memperlebar ketimpangan pendidikan.
Lalu, apa hubungannya dengan RUU Sisdiknas?
Menurut Adelia, janji pendidikan gratis perlu diwujudkan secara konkret melalui pengesahan RUU Sisdiknas yang berpihak kepada masyarakat. BEM SI menyoroti sejumlah hal dalam draf RUU tersebut, termasuk ketentuan gaji guru dan batasan wajib belajar yang dinilai belum komprehensif. Mahasiswa menilai kesejahteraan guru serta pemerataan akses pendidikan merupakan bagian penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang adil.
Kira-kira apa saja tuntutan mahasiswa dari aksi ini, Min?
Dalam aksi ini, BEM SI membawa empat tuntutan utama, yaitu:
- Mendesak pembahasan dan revisi UU Sisdiknas secara partisipatif dan komprehensif;
- Mendesak pemerintah merealisasikan pendidikan gratis;
- Mendorong peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan;
- Menjamin keberlanjutan perguruan tinggi swasta (PTS) dalam kebijakan pendidikan tinggi gratis.
Menurut Sobat, apa langkah paling penting agar janji pendidikan gratis benar-benar bisa diakses secara merata oleh seluruh masyarakat?
Unsoed Terapkan Model School-to-Home untuk Mendorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

(Sumber: unsoed.ac.id)
Permasalahan sampah memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu pihak, Sob. Pada hari Selasa (06/10), Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Riset Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP Unsoed) memperkenalkan konsep School-to-Home Waste Linkage melalui sosialisasi Kurikulum Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas di Purwokerto. Program ini bertujuan menghubungkan edukasi pengelolaan sampah di sekolah dengan penerapannya di lingkungan keluarga.
Apa itu konsep School-to-Home Waste Linkage, Min?
Konsep School-to-Home Waste Linkage adalah edukasi pengelolaan sampah di sekolah dengan penerapannya yang menghubungkan dengan lingkungan keluarga. Melalui sosialisasi Kurikulum Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas, Tim PKM FISIP Unsoed melibatkan para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) dari wilayah Kober, Purwokerto. Kegiatan ini didanai melalui skema PKM Berbasis Riset Unsoed Tahun Anggaran 2026.
Wah menarik, lalu bagaimana caranya menerapkan konsep tersebut?
Ketua tim pengusul, Prof. Dr. Slamet Rosyadi, menjelaskan bahwa peserta didik didorong menjadi penghubung antara kebiasaan memilah sampah di sekolah dan penerapannya di rumah. Kurikulumnya disusun secara bertahap sesuai perkembangan peserta didik, mulai dari pengenalan visual di jenjang PAUD dan SD hingga pembahasan tanggung jawab produsen di jenjang pendidikan menengah.
Jika keluarga juga dilibatkan, lalu apa peran orang tua dan bank sampah dalam konsep ini?
Keduanya sama-sama berperan memperkuat kebiasaan pengelolaan sampah di rumah. Dukungan juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, yang menilai bahwa sekolah dapat menjadi pintu masuk perubahan perilaku apabila pembelajarannya terhubung dengan kebiasaan keluarga. Dosen Teknologi Pertanian Unsoed, menekankan pentingnya menangani sampah organik rumah tangga sejak dari sumbernya. Oleh karena itu, pemilahan sampah sejak di rumah menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi timbulan sampah.
Yuk, mulai biasakan memilah sampah dari rumah karena perubahan kecil bisa menjadi langkah berarti untuk menjaga lingkungan!
Penulis: Faiq Rafif Ramadhan dan Hafshoh Sirin