Halo, Sobat Gensoed!
Memasuki akhir bulan Oktober, hujan mulai turun di berbagai daerah, nih. Jangan lupa siapkan payung dan jaga stamina, ya, Sob, supaya tetap siap siaga menjalani aktivitas. Mimin hadir kembali membawa kumpulan berita terpopuler sepekan ini. Yuk, kita simak bersama!
Aksi Demonstrasi 28 Oktober di Jakarta: Begini Situasi di Lapangan dan Respons Aparat

(Sumber: megapolitan.kompas.com)
Demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada hari Rabu (28/10), berujung ricuh. Polisi menembakkan gas air mata dan mengamankan 19 orang, yang kemudian dipulangkan pada hari Kamis (29/10). Aksi yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ini membawa lima tuntutan.
Sebenarnya siapa yang turun ke jalan dan apa yang mereka suarakan, Min?
Jadi begini, Sob! Aksi ini diinisiasi oleh aliansi mahasiswa, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), bersama masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) atau gerakan #IndonesiaSadar. Massa mulai berkumpul sekitar pukul 14.00 WIB dengan lima tuntutan, yaitu penetapan status bencana nasional, perbaikan anggaran, biaya pendidikan yang lebih murah, pemberantasan korupsi, dan penghentian militerisasi ruang sipil. Massa juga membawa replika salib merah setinggi sekitar lima meter sebagai simbol solidaritas untuk masyarakat adat Papua dan kritik atas kerusakan hutan.
Wah, lalu kenapa aksinya bisa berujung ricuh, Min?
Ketegangan sudah terasa sejak massa bergerak menuju HI. Menurut pantauan Okezone, polisi melarang mahasiswa masuk ke Bundaran HI dan membentuk barikade sehingga sempat terjadi aksi dorong-dorongan di depan Gedung United Overseas Bank (UOB). Mahasiswa akhirnya berhasil menembus barikade, sementara arus lalu lintas dari Jl. Sudirman menuju HI lumpuh. Menjelang malam, sejumlah demonstran memanjat pos polisi dan menyalakan flare. Situasi memanas hingga sekitar pukul 20.00 WIB, ketika polisi menembakkan gas air mata dan hujan deras mulai mengguyur lokasi. Di tengah aksi ini, jurnalis sempat dihalangi saat meliput dan Kepolisisan Daerah (Polda) Metro Jaya kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada pers.
Lalu, bagaimana nasib orang-orang yang diamankan, Min?
Polda Metro Jaya mengamankan 19 orang dalam rangkaian aksi tersebut, termasuk satu anak di bawah umur. Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, sebagian dari mereka kedapatan membawa petasan dan senjata tajam, serta ditemukan 12 cat yang diduga akan dipakai untuk vandalisme. Di sisi lain, laporan media juga menyebut ada yang diseret saat diamankan. Setelah pemeriksaan selesai, ke-19 orang itu dipulangkan pada hari Kamis (29/10) dan diserahkan kepada keluarga atau pendamping hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Polisi juga memberikan edukasi dan imbauan agar mereka tidak mengulangi tindakan yang mengganggu ketertiban umum.
Terus, seperti apa kelanjutannya, Min?
Aksi tersebut berlanjut ketika ratusan mahasiswa Universitas Trisakti berunjuk rasa di kawasan Patung Kuda dan Jl. Medan Merdeka Selatan. Mereka membawa tiga tuntutan yang disebut Tritura, yakni pemulihan sektor nasional, pemberantasan inkompetensi dan rangkap jabatan pejabat publik, serta penegakan supremasi sipil. Mereka juga meminta pencopotan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Staf Khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, menemui massa dan berjanji menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinan eksekutif. Berbeda dengan aksi sehari sebelumnya, demo ini berlangsung tanpa kericuhan, dan massa membubarkan diri atas inisiatif sendiri setelah salat Magrib.
Yuk, pantau terus perkembangannya agar penyampaian pendapat ini tetap berjalan tertib dan aman bagi semua pihak!
Karhutla Tanjung Puting Meluas! Sebanyak 513,89 Hektare Lahan Terbakar

(Sumber: kehutanan.go.id)
Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, meluas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran seluas 513,89 hektare per hari Senin (12/10) hingga hari Kamis (22/10) api dilaporkan hanya sekitar 600 meter dari feeding camp orang utan Tanjung Harapan. Kini jumlah titik api mulai menurun, tetapi tingkat kewaspadaan tidak boleh kendur.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Tanjung Puting, sih, Min?
Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting yang melanda wilayah Kotawaringin Barat dan Seruyan di atas tanah mineral, mendapatkan atensi khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Guna mempercepat pemadaman, pemerintah mengerahkan 200 unit pompa air serta mengucurkan dana Rp2 miliar untuk pembuatan 200 titik sumur bor.
Wah, lalu, bagaimana kondisi terbarunya, Min?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar mencatat 22 titik api pada hari Selasa (27/10), 20 di antaranya di kawasan Tanjung Puting. Jumlahnya disebut mulai menurun, tetapi kebakaran masih muncul kembali di beberapa lokasi seperti Kobar pada hari Rabu (28/10). Dampaknya juga terasa ke sektor wisata, karena empat pintu masuk ditutup sementara sejak hari Sabtu (24/10). Kabar baiknya, hujan deras dilaporkan mengguyur Tanjung Puting dan berpotensi membantu meredakan karhutla
Kira-kira apa saja, ya, langkah penanganannya?
Tiga tim dikerahkan di lapangan untuk membuka jalan, membuat sumur bor, dan memadamkan api. Dari udara, water bombing meningkat dari 16 kali pada hari Sabtu (17/10) menjadi 26 kali pada hari berikutnya, meski jarak pandang masih jadi kendala. Pemerintah juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan penyemaian garam dan dry ice. Tujuannya memanfaatkan awan hujan yang tumbuh agar hujan turun lebih cepat dan membantu memadamkan api.
Ada tidak, sih, hal-hal yang perlu diwaspadai ke depannya?
Pastinya ada, dong, Sob! Meski titik api mulai menurun, kebakaran masih muncul lagi di beberapa lokasi di Kobar pada hari Rabu (28/10). Hujan memang diprediksi mulai turun merata dari pertengahan Oktober sampai November, dan Presiden menyebut api baru benar-benar padam kalau hujan turun. Karena itu, pengawasan di lapangan tetap harus berjalan, apalagi api sempat mendekati camp orang utan. Di sisi lain, BNPB menyebut sedikitnya 46 orang utan sudah diselamatkan dari habitat yang terbakar.
Yuk! Jangan berhenti peduli sebelum api benar-benar padam, agar Tanjung Puting bisa kembali pulih dan karhutla tidak terulang lagi!
Tuntut Reaktivasi BPJS PBI, Massa Kembali Datangi Pemkab Banyumas

(Sumber: kompas.com)
Massa dari Aksi Rakyat Banyumas (ARB) kembali berdemonstrasi di depan Kantor Bupati Banyumas pada hari Rabu (28/10). Mereka membawa keranda dan pocong sebagai simbol desakan agar kepastian layanan kesehatan bagi warga terdampak penonaktifan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Penerima Bantuan Iuran (BPJS PBI) segera diberikan.
Waduh, kok, bisa warga Banyumas sampai harus turun ke jalan?
Iya, Sob! Karena Pemerintah Kabupaten Banyumas menonaktifkan 130.000 peserta BPJS PBI yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sejak hari Kamis (01/10). Aksi pertama digelar Musyawarah Rakyat Banyumas (Murba) pada hari Jumat (9/10). Karena tuntutan belum terpenuhi, ARB menggelar aksi kedua dengan tuntutan yang sama, yaitu Universal Health Coverage (UHC) diaktifkan kembali. Koordinator aksi, Budi Ari Tartanto, mengancam akan menggelar demo berjilid-jilid apabila BPJS PBI tidak segera diaktifkan.
Apa alasan Pemkab menonaktifkan BPJS PBI itu, Min?
Pemkab menegaskan UHC tidak dihentikan, tetapi dievaluasi agar bantuan lebih tepat sasaran. Berdasarkan surat edaran bupati, warga desil 1-5 jadi prioritas, sedangkan desil 6-10 dengan kondisi tertentu tetap bisa mendapat perlindungan. Akan tetapi, massa menolak alasan ini. Mereka menilai alasan evaluasi dan efisiensi anggaran tidak bisa diterima.
Lalu, apa ada kabar baik dari aksi kemarin, Min?
Ada, Sob! Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, didampingi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Agus Priyanggodo, menemui massa secara langsung. Di hadapan massa, bupati menandatangani Pakta Integritas yang memuat komitmen menuntaskan persiapan pengaktifan kembali UHC. Sebelumnya, Pemkab juga sudah membuka Posko Pengaduan UHC bagi warga yang terdampak. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyumas. Meski begitu, ARB menegaskan akan terus mengawal dan koordinator aksi menyebut siap kembali turun ke jalan jika komitmen tersebut tidak terealisasi.
Mari terus kawal agar UHC Banyumas benar-benar berjalan untuk warga yang membutuhkan!
Penulis: Angely Puspita Sari & Shakira Alfiatu Rizka