BEM Unsoed — Telah berlangsung salah satu program kerja dari Kementerian Analisis Isu Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Anstrat BEM Unsoed) 2025, yaitu Analisis Sosial : Menelaah Permasalahan Agraria Masyarakat Gragalan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap Melalui Upacara Adat Wiwitan yang dilaksanakan pada hari Senin (24/11) di Gragalan Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap pukul 10.30–selesai. Analisis sosial ini merupakan kegiatan dalam rangka advokasi masyarakat melalui upacara adat Wiwitan bersama Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Yogyakarta untuk mengawal permasalahan agraria masyarakat Gragalan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap yang mana terjadi penggusuran lahan oleh Lapas Nusakambangan untuk perluasan lapas dan proyek food estate.

(Sumber: Kementerian Analisis Isu Strategis)
Kegiatan ini melibatkan masyarakat, mahasiswa, serikat tani, serta Lembaga Konsorsium Pembaharuan Agraria. Kegiatan yang di dukung oleh YLBHI Yogyakarta ini selanjutnya melaksanakan upacara adat Wiwitan sebagai wadah untuk menyampaikan keresahan terkait penggusuran tanah oleh Lapas Nusakambangan dan proyek food estate.
Rangkaian kegiatan analisis sosial ini dimulai dengan pembukaan oleh masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan warga Gragalan menuju area lahan pertanian sambil menyanyikan lagu Lir Ilir sebagai ungkapan syukur dan harapan atas keberlangsungan kehidupan agraris mereka. Setibanya di lahan pertanian, masyarakat melaksanakan upacara adat Wiwitan sebagai bentuk penghormatan kepada alam sekaligus ungkapan terima kasih atas hasil bumi. Prosesi ini kemudian diteruskan dengan kegiatan simbolik berupa penanaman bibit padi oleh perwakilan masyarakat.
Setelah prosesi adat selesai, dilakukan pembacaan doa bersama, lalu masyarakat kembali melakukan arak-arakan menuju lokasi acara utama. Kegiatan berlanjut dengan sambutan dari tokoh masyarakat serta perwakilan YLBHI Yogyakarta yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak agraria masyarakat.
Selanjutnya, dipentaskan pembacaan kisah Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan penjaga kehidupan petani, disambung dengan tarian Prau Layar serta lantunan lagu-lagu perjuangan. Seluruh rangkaian ini menjadi bentuk ekspresi budaya sekaligus penyampaian pesan moral mengenai pentingnya mempertahankan tanah dan tradisi leluhur.
Pada sesi berikutnya, masyarakat dan mahasiswa menyampaikan orasi yang menggambarkan kegelisahan mereka terhadap praktik perampasan lahan oleh Lapas Nusa Kambangan serta proyek food estate yang mengancam ruang hidup petani. Kegiatan kemudian ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh BEM Banyumas Raya, Bata Laut Cilacap Melawan, dan masyarakat Gragalan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Pernyataan tersebut menegaskan tuntutan agar pemerintah pusat maupun daerah segera mengembalikan tanah rakyat dan memastikan terwujudnya reformasi agraria sejati demi keberlanjutan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan seluruh elemen masyarakat bekerja sama dalam pelaksanaanya. Namun, selama upacara adat berlangsung, sejumlah aparat yang bertugas menjaga dinilai kurang menunjukkan penghargaan terhadap jalannya acara, yang terlihat dari candaan lantang sehingga mengganggu ketenangan masyarakat saat melaksanakan upacara adat Wiwitan. Selanjutnya, ketika acara berlanjut di lokasi utama, tidak terdapat perwakilan dari pemerintah daerah yang hadir, dan aparat yang melakukan penertiban hanya tampak pada saat arak-arakan tanpa turut terlibat dalam rangkaian acara lainnya.
Penulis: Kementerian Analisis Isu Strategis
Editor: Iges Tahtia Wardani