Bayangkan, Sobat sudah bersiap untuk wawancara. Pakaian sudah rapi, pakai parfum paling wangi, wajah siap berseri-seri. Tapi, oh, tapi, baru satu langkah masuk ruangan … semuanya buyar. Aduhhhh … sia-sia, deh, jadinya. Bagaimana, ya, supaya wawancara Sobat lancar?
Kamu Mahasiswa? Lakuin Ini Saja!
Kalau Sobat pernah mengalami grogi atau nge-blank ketika wawancara, itu wajar, kok. Mimin juga pernah berada di posisi seperti itu. Nah, supaya wawancara Sobat lancar, Mimin akan bantu berikan kiat-kiatnya! Langsung simak saja, yuk!
1. Kuasai Kesan Pertama dalam 7 Detik Pertama
Otak manusia menggunakan primacy effect dan thin-slicing, yaitu kecenderungan membuat penilaian cepat mengenai karakter seseorang hanya dalam beberapa detik pertama. Nah, ini penting, Sob. Ketika masuk ke ruangan wawancara, berikan kesan terbaik kepada pewawancara. Misalnya, masuk ke ruangan dengan percaya diri, penampilan rapi, berikan sapaan ramah, dan tersenyumlah.
2. Manfaatkan Mirroring Effect
Manusia secara alami lebih menyukai dan percaya pada orang yang memiliki kemiripan dengan mereka, lho. Hal ini biasa disebut dengan similarity-attraction effect. Apakah harus menyerupai pewawancara, Min? Oh, tentu tidak, Sob! Contoh sederhananya, Sobat bisa memperhatikan cara dan tempo bicara pewawancara, lalu beradaptasi dengan mengimbangi temponya.
3. Gunakan Metode STAR untuk Mengaktifkan Otak Naratif
Faktanya, otak manusia lebih mudah mengingat cerita dibanding pemaparan data. Maka dari itu, coba Sobat lekatkan nilai yang ingin dibawakan memakai rumus Situation, Task, Action, Result (STAR) atau situasi, tugas, aksi, dan hasil. Ketika wawancara, Sobat bisa memulai dengan menjelaskan latar belakang pengalaman yang dihadapi, lalu uraikan tanggung jawab yang harus diselesaikan, kemudian jabarkan peran Sobat dalam pengalaman tersebut seperti apa, dan terakhir, sampaikan dampak positif dari tindakan yang sudah diambil. Rumus ini memang harus dibiasakan, sih, Sob. Apabila Sobat sering berlatih dengan metode STAR, maka nanti akan terbiasa untuk lebih rileks ketika menceritakan pengalaman.
4. Tunjukkan Kerentanan Terukur lewat Pratfall Effect
Nah, hati-hati, Sob, terlalu sempurna bisa membuat pewawancara ragu dan curiga. Maka di sini Pratfall Effect bekerja. Pratfall Effect adalah fenomena psikologis saat seseorang yang berkompeten menjadi lebih disukai ketika melakukan kesalahan kecil karena terlihat lebih manusiawi. Oleh karena itu, Sobat bisa menyampaikan kekurangan yang ada dalam diri Sobat maupun dalam pengerjaan suatu projek, kemudian jelaskan langkah yang Sobat ambil untuk menyelesaikan kekurangan tersebut sehingga tidak menjadi hambatan Sobat untuk berkembang. Melalui metode ini, pewawancara akan melihat Sobat sebagai orang dengan growth mindset yang punya kesadaran dan daya analitis terhadap tantangan yang dihadapi.
5. Manfaatkan Barnum Effect ketika Bertanya
Supaya sesi wawancara enggak kaku seperti sidang, Sobat bisa manfaatin Barnum Effect, nih. Barnum Effect adalah fenomena psikologis ketika seseorang merasa suatu pernyataan yang sebenarnya umum dan universal diciptakan khusus untuk menggambarkan dirinya. Saat sesi tanya jawab di akhir wawancara, lontarkan pertanyaan yang menyentuh pengalaman universal seorang pemimpin, lalu sambungkan dengan kesiapan Sobat. Langkah ini akan membuat pewawancara merasa dipahami dan semakin relate.
Nah, itu dia kiat-kiat yang bisa Sobat terapkan ketika wawancara. Kiat-kiat yang Mimin kasih memang berbasis psikologi sehingga bagus untuk dicoba karena menyasar langsung ke cara otak manusia memberikan atau memproses informasi, menilai karakter, dan mengambil keputusan. Perlu Sobat ketahui bahwa selain bersiap secara fisik, ternyata perlu bersiap secara mental juga, lho. Yuk, dipraktekkan mulai dari sekarang supaya nanti mudah terbiasa, Sob!
Sekarang Mimin pamit, sampai jumpa di Malaka edisi berikutnya~
Penulis: Faiq Rafif Ramadhan & Maya Widya Hapsari