BEM Unsoed – Hidup Mahasiswa!

Hidup Rakyat Indonesia!

Hidup Perempuan Indonesia!

Telah dilaksanakan program kerja dari Kementerian Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Akspro BEM Unsoed) 2024, yaitu Aksi pernyataan sikap Aliansi Gerakan Banyumas adili Jokowi: demokrasi mati, saatnya revolusi. Aksi ini dilaksanakan pada Jumat (23/08) di depan Gedung DPRD Banyumas pada pukul 13.00 WIB. Mahasiswa, pelajar, dan masyarakat sipil Banyumas turut terlibat sebagai bentuk protes dan tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah untuk segera kembali menegakan Amanat Konstitusi Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Aksi demonstrasi dilaksanakan sebagai bentuk keresahan dan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan Joko Widodo selama 10 tahun masa kepemimpinannya sebagai Presiden Indonesia, khususnya pasca adanya wacana revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Massa aksi yang tergabung dalam tajuk “Banyumas Adili Jokowi: Demokrasi Mati Saatnya Revolusi” berkumpul di titik kumpul yaitu area Universitas Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang kemudian dilanjut dengan long march menuju ke titik aksi di depan Gedung DPRD Banyumas. Pada saat long march, massa aksi berhenti di tiap-tiap pusat keramaian, salah satunya di pertigaan dan perempatan lampu merah Jalan Ahmad Yani Purwokerto Utara untuk melakukan penyampaian orasi di atas mobil komando. Setelah sampai di titik aksi, massa aksi kembali melanjutkan orasinya serta memasang banner di pagar kantor DPRD Banyumas yang bertuliskan keresahan dan kritikan terhadap pemerintah.

Saat hari mulai petang sekitar pukul 18.00–20.00 WIB, massa aksi mulai dipukul mundur oleh aparat keamanan dengan menggunakan water cannon dan alat pukul, juga dikejar menggunakan motor trail  terhadap massa aksi yang sedang berdemonstrasi. Tidak hanya itu, polisi juga didapati melakukan pengeroyokan dan penyiksaan terhadap massa aksi yang mengakibatkan banyak mahasiswa mengalami luka dan beberapa sampai tidak sadarkan diri. Akibatnya massa aksi berlari berhamburan sampai banyak massa aksi yang harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Setelah situasi semakin tidak kondusif, massa aksi mulai membubarkan diri dengan kembali menuju ke titik kumpul di UIN Saizu Purwokerto.

Melihat represifitas yang terjadi dan tuntutan rakyat yang tidak terpenuhi, maka kami Aliansi Gerakan Banyumas Adili Jokowi: Demokrasi Mati Saatnya Revolusi menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mengecam keras segala tindakan penindasan dan langkah-langkah militeristik dalam membatasi akses kebebasan masyarakat yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Kami juga menuntut pertanggungjawaban dari Kepolisian Resor Kota Banyumas atas jatuhnya korban dan kerusuhan yang terjadi.
  2. Melakukan, menyerukan dan mengorganisir pemboikotan umum terhadap keberlangsungan Pilkada tahun 2024 yang menyimpang dari substansi demokrasi dan esensi kedaulatan rakyat. Kami juga mengecam tindakan elit dan partai politik praktis yang hanya menjadi kaki tangan rezim penindas rakyat.

Aksi berjalan dengan kondusif hingga pihak kepolisian melakukan provokasi dan pemukulan tersebut beberapa demonstran. Massa yang hendak masuk ke dalam Gedung DPRD untuk bersidang di tempat wakil-wakil mereka harus menghadapi keganasan dan serangkaian tindakan tidak manusiawi aparat kepolisian. Hal tersebut menjadi bukti kuat bahwa negara tidak memberikan kebebasan dan pengakuan terhadap kedaulatan rakyat. Situasi semakin memanas ketika kepolisian melakukan berbagai persiapan untuk melakukan penindasan yang lebih kejam dengan menyiapkan kendaraan berat lapis baja seperti Barakuda dan water cannon serta satu Kompi pasukan bermotor dengan persenjataan lengkap.

Hidup Mahasiswa!

Hidup Rakyat Indonesia!

Hidup Perempuan Indonesia!


Penulis : Kementerian Aksi dan Propaganda

Editor : Khazimatul Karimah