Halo, Sobat Gensoed!
Bagaimana kabarnya minggu ini? Semoga tetap semangat, ya, walaupun jadwal kuliah dan tugas mulai padat lagi. Minggu ini banyak kabar yang perlu disimak, mulai dari isu kebencanaan di Banyumas, gejolak aksi nasional, hingga berita aktual mengenai dinamika perguruan tinggi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Penasaran, kan?
Yuk, langsung simak rangkumannya!
BPBD Catat Tiga Titik Karhutla di Kabupaten Banyumas

(Sumber: radarbanyumas.disway.id)
Musim kemarau masih berlangsung dan risikonya mulai terasa nyata di Banyumas, Sob! Pada Selasa (22/09), setidaknya tiga kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Banyumas dalam sehari. Salah satu titik api bahkan sempat mendekati permukiman warga di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, dengan jarak diperkirakan hanya sekitar 10 meter dari rumah warga.
Kok, bisa sampai mendekati rumah warga, Min?
Berdasarkan pantauan di lapangan, api mulai membakar rumpun bambu di belakang rumah warga Karanggintung sekitar pukul 09.00 WIB. Api diduga berasal dari aktivitas pembakaran yang kemudian merembet ke area sekitar. Untungnya, petugas pemadam kebakaran gerak cepat begitu kobaran api dilaporkan semakin mendekati permukiman sehingga api berhasil dikendalikan sebelum meluas.
Waduh, lalu, bagimana penanganannya, Min?
Penanganan dilakukan bersama-sama oleh petugas, unsur gabungan, dan masyarakat setempat, karena api sempat kembali muncul di kawasan lereng tersebut selama dua malam berturut-turut. Menanggapi kondisi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau masih berlangsung, termasuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, serta memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Yuk, sama-sama kita jaga lingkungan supaya karhutla enggak terulang lagi, Sob!
Aksi September Hitam di Jakarta: Soroti Reforma Agraria hingga Ketenagakerjaan

(Sumber: afu.id)
Pada hari Kamis (24/09) menjadi hari yang sarat dengan penyampaian aspirasi publik, Sob! Bertepatan dengan Hari Tani Nasional, sejumlah kelompok masyarakat menggelar aksi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) untuk menyuarakan isu agraria, termasuk penguasaan dan hak atas tanah. Di waktu yang sama, kelompok buruh turut turun ke jalan mengawal pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelindungan Ketenagakerjaan, sementara mahasiswa hingga masyarakat sipil memanfaatkan momentum “September Hitam” untuk mengenang sejumlah peristiwa kekerasan serta pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lalu.
Lho, kok, bisa bertepatan secara serentak, Min?
Ketiganya membawa isu dan tuntutan yang berbeda meski berlangsung di tanggal yang sama. Dari sisi agraria, aksi ini bergulir tak lama setelah DPR RI mengesahkan RUU Pengaturan Reforma Agraria menjadi undang-undang pada (22/09) kemarin, yang disebut bertujuan untuk menjawab ketimpangan penguasaan tanah dan konflik agraria berkepanjangan. Sementara itu, RUU Pelindungan Ketenagakerjaan masih dalam tahap pembahasan antara pemerintah dengan DPR, mencakup isu kepastian hubungan kerja, pengupahan, jaminan sosial, hingga perlindungan pekerja platform digital, dengan target rampung pada Oktober 2026.
Kalau membahas mengenai “September Hitam” itu, maksudnya bagaimana, Min?
Istilah ini merujuk pada rangkaian peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM dalam sejarah Indonesia, seperti Tragedi Tanjung Priok, kematian aktivis HAM Munir Said Thalib, dan Tragedi Semanggi II. Pada September 2026 ini, peringatan 22 tahun kematian Munir turut menjadi momentum bagi masyarakat sipil untuk kembali menyuarakan tuntutan penyelesaian kasus tersebut. Momentum ini lebih tepat dipahami sebagai ruang mengenang sejarah dan penghormatan bagi korban, terlepas dari agenda agraria maupun buruh yang berlangsung di hari yang sama.
Nah, dari rangkaian aksi ini, Sob, kita bisa lihat bahwa penyampaian aspirasi memang jadi bagian dari partisipasi publik. Baik pemerintah, DPR, maupun masyarakat sama-sama memiliki peran untuk saling menjaga agar proses kebijakan berjalan terbuka dan bisa dipantau bersama, ya!
Perkuat Sinergi dan Kampus, Empat Wakil Rektor Unsoed Resmi Dilantik

(Sumber: unsoed.ac.id)
Kabar baik datang dari kampus kita, nih, Sob! Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si., resmi melantik empat Wakil Rektor Unsoed pada Senin (21/09) di Auditorium Graha Widyatama Prof. Rubijanto Misman.
Siapa aja, sih, yang dilantik, Min?
Keempat pejabat yang dilantik, diantaranya sebagai berikut:
- Prof. Dr. Eng. Ir. Suroso, S.T., M.Eng., IPU. sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik
- Prof. Dr. Wahyuningrat, M.Si. sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan
- Roy Andreas, S.Si., M.Si., Ph.D. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan
- Prof. Dr. Eko Suyono, S.E., M.Si., Ak., CA., CPA. sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas.
Wah, kira-kira pesan khsuus apa yang diberikan kepada pejabat terlantik ini, Min?
Dalam sambutannya, Plt Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si., berpesan agar amanah tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan menjunjung tinggi integritas, kejujuran, transparansi, serta akuntabilitas. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Wakil Rektor periode sebelumnya atas dedikasi yang telah diberikan bagi kemajuan Unsoed.
Terakhir, ada rencana ke depannya enggak, Min?
Plt Rektor menyampaikan bahwa Unsoed tengah mencanangkan sejumlah program perbaikan strategis, mulai dari penguatan komunikasi publik, penguatan aspek legal dan kepatuhan, hingga penataan tata kelola khususnya dalam Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Seluruh Wakil Rektor diharapkan dapat bersinergi dan berkolaborasi demi mewujudkan visi Unsoed sebagai pusat pengembangan sumber daya perdesaan serta kearifan lokal yang diakui dunia.
Selamat bertugas untuk keempat Wakil Rektor baru, semoga semakin membawa kemajuan untuk Unsoed, ya, Sob!
Penulis: Angely Puspita Sari & Faiq Rafif Ramadhan