Halo, Sobat Gensoed!

Minggu ini, ada banyak berita yang datang dari berbagai penjuru—dari panggung seni yang semarak di lingkungan kampus dan daerah kita sendiri, hingga kabar dari dunia ekonomi yang tengah menjadi perbincangan banyak orang. Semuanya punya topik-topik seru yang menarik untuk Sobat ikuti, lho!

Nah, Mimin sudah merangkumnya dengan rapi, nih, supaya Sobat bisa langsung mendapatkan gambaran lengkapnya tanpa perlu repot mencari ke mana-mana.

Yuk, langsung kita bahas satu per satu!


Peksimitas 2026 Hadirkan Ruang bagi Mahasiswa Unsoed untuk Tampilkan Talenta Seni

(Sumber: unsoed.ac.id)

Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) resmi menggelar Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Universitas (Peksimitas) 2026 yang berlangsung mulai dari tanggal 4 hingga 13 Mei. Pembukaan ajang kompetisi ini diselenggarakan di Aula Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unsoed pada Senin (04/05). Ajang ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, para Wakil Dekan dari berbagai fakultas, serta seluruh peserta lomba.

Hmm, sebenarnya Peksimitas ini ajang apa sih, Min?

Nah, Peksimitas ini bukan cuma ajang kompetisi biasa, lho, Sob! Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si. selaku ketua panitia menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wadah untuk menumbuhkan kreativitas, memperkuat jati diri, dan membangun jejaring antarmahasiswa lintas fakultas. Sementara itu, Prof. Dr. Norman Arie Prayogo, S.Pi., M.Si. selaku Wakil Rektor juga mengingatkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik. Mental yang kuat juga sama pentingnya dan Peksimitas hadir sebagai ruang untuk melatih hal itu.

Wah, lalu, cabang lomba apa saja, sih, yang diadakan?

Banyak banget, Sob! Rangkaian lombanya digelar bertahap. Di hari pertama, diadakan lomba vokal keroncong dan baca puisi. Pada hari berikutnya, diadakan lomba vokal seriosa, vokal dangdut, serta penulisan puisi, cerpen, dan lakon. Beberapa hari berikutnya, giliran desain poster, komik strip, fotografi, dan lukis yang jadi sorotan. Terakhir, di penghujung acara pada tanggal 12–13 Mei, akan digelar lomba monolog dan tari sekaligus penutupan kegiatan.

Melalui Peksimitas, Unsoed menegaskan komitmennya dalam mengembangkan potensi non-akademik mahasiswa di bidang seni dan budaya. Semoga ajang ini melahirkan talenta-talenta unggul yang siap bersaing hingga tingkat regional dan nasional, ya, Sob!


Semarak Banyumas Ngibing 24 Jam! Hampir 1.000 Penari Libatkan 90 Komunitas hingga Mancanegara

(Sumber: tribunbanyumas.com)

Banyumas kembali diramaikan dengan gelaran seni budaya melalui acara Banyumas Ngibing 24 Jam yang berlangsung pada hari Sabtu–Minggu (02–03/05) di Pendopo Kecamatan Banyumas. Acara ini menghadirkan hampir 1.000 penari dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara dalam pertunjukan tari maraton selama sehari penuh.

Di Banyumas Ngibing kali ini, ada hal menarik enggak, Min?

Ada, Sob! Acara ini melibatkan sekitar 90 komunitas tari dengan lebih dari 150 sajian pertunjukan yang ditampilkan tanpa henti selama 24 jam. Para peserta datang dari berbagai kota mulai dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Solo, hingga Tangerang. Bahkan, sejumlah penari dari luar negeri seperti, Jepang, Kazakhstan, Belanda, dan Jerman juga ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara.

Wah, keren banget. Lalu, apa lagi yang spesial dari acara ini, Min?

Nah, di Banyumas Ngibing ini juga ada beberapa penampilan spesial, nih! Penggagas acara, Riyanto, menyampaikan bahwa salah satu penampilan spesial dalam acara ini adalah kolaborasi bersama maestro seni tari, Ibu Eli Lutan. Selain itu, ada juga Ruben, seniman asal Jerman, yang tampil berkolaborasi dengan seniman Indonesia dalam pertunjukan tari budaya.

Kalau untuk rangkaian acaranya seperti apa, Min?

Persiapan acara sudah dimulai sejak pukul 05.00 WIB dengan penataan area. Acara kemudian dibuka melalui seremoni dua penari 24 jam yang ditandai dengan pemukulan gong dan kentongan. Setelah itu, berbagai pertunjukan seni ditampilkan, mulai dari tari oleh siswa SMK Negeri 3 Banyumas, lenggeran massal, hingga pertunjukan barongsai yang semakin memeriahkan suasana.

Semoga Banyumas Ngibing terus menjadi wadah bagi para seniman untuk berkarya sekaligus memperkenalkan budaya Banyumas hingga ke tingkat internasional ya, Sobat!


Rupiah Sentuh Rekor Terendah Sepanjang Sejarah, BI Siaga Jaga Stabilitas Pasar

(Sumber: kontan.co.id)

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari Kamis (23/04). Kondisi ini menjadi perhatian karena pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Waduh, kok, bisa melemah sampai segitunya, Min?

Destry Damayanti selaku Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal. Di antaranya yaitu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan indeks dolar AS yang terlalu kuat menekan semua mata uang di negara berkembang, serta melonjaknya jumlah arus modal keluar (capital outflow) di mana investor asing cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang akibat tingginya hasil obligasi pemerintah AS. Selain itu, ada juga faktor internal berupa kebutuhan dolar AS yang tinggi pada bulan April-Juni untuk pembayaran kebutuhan ibadah haji.

Nah, loh, terus dampaknya untuk Indonesia apa saja, tuh?

Pelemahan rupiah dapat memberikan dampak pada berbagai sektor di Indonesia, lho, Sob. Beberapa dampak yang paling terasa yaitu, meningkatnya harga bahan baku dan bahan bakar di dalam negeri, serta biaya perjalanan dan pendidikan di luar negeri juga bisa menjadi lebih mahal karena nilai tukar dolar yang semakin tinggi. Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan beban utang luar negeri pemerintah maupun perusahaan swasta yang menggunakan dolar AS. 

Lalu, kira-kira apa saja langkah BI untuk mengatasi masalah ini?

BI menegaskan akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga memastikan bahwa cadangan devisa Indonesia masih terjaga di level US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

Huft … Kondisi rupiah ini membuat banyak orang ikut waswas, ya, Sob. Semoga situasi ekonomi global segera membaik agar perekonomian Indonesia tetap kuat menghadapi tantangan dunia.


Penulis: Azizah Fatma Haifa Chairunnisa dan Hafshoh Sirin