Oleh Raden Roro Davia Kanaya Balqis (F1F025061), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Pada masa yang semakin cepat, media sosial menjadi tempat utama bagi orang-orang untuk berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan membentuk identitas mereka. Namun, di balik kemudahan itu, ada sisi gelap yang sering diabaikan, yaitu cyberbullying. Fenomena ini bukan lagi sekadar lelucon, melainkan bentuk kekerasan digital yang nyata dan memiliki dampak yang serius.
Saya pernah melihat langsung bagaimana satu unggahan sederhana bisa berubah menjadi tempat kritik yang negatif. Mulanya hanya kritik, tetapi perlahan berubah jadi candaan, bahkan sampai menyerang hal-hal yang bersifat pribadi. Hal yang paling membuat khawatir bukan hanya apa yang tertulis dalam komentar itu, melainkan bagaimana banyak orang merasa hal itu sudah biasa dan tidak aneh. Seolah-olah, selama dilakukan di balik layar, kata-kata tidak lagi memiliki konsekuensi.
Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa cyberbullying sering terjadi karena adanya budaya digital yang terlalu memperbolehkan. Banyak orang merasa bebas melakukan apa saja tanpa merasa ada kewajiban untuk bertanggung jawab. Anonimitas dan jarak fisik membuat empati menjadi kurang tajam. Kita sering lupa bahwa di balik setiap akun, ada orang asli yang punya perasaan dan bisa merasa sakit hati.
Lebih lanjut lagi, cyberbullying tidak hanya menyebabkan dampak emosional pada korban, tetapi juga bisa berdampak negatif pada kesehatan mental secara berkelanjutan. Perasaan takut, kehilangan keyakinan diri, hingga menghindar dari lingkungan sosial sering terjadi sebagai akibatnya. Ironisnya, korban sering memilih untuk tidak berbicara karena mereka takut jika mereka melawan, situasi akan semakin menjadi-jadi.
Masalah ini tidak bisa dipahami hanya dari perspektif pelaku dan korban saja. Kita semua sebagai pengguna media digital memiliki peran yang sangat penting. Diam saat melihat cyberbullying juga bisa dianggap sebagai tindakan membiarkan hal itu terjadi. Sebaliknya, memberi dukungan kepada korban atau tidak membagikan konten negatif adalah tindakan kecil yang bisa memicu perubahan.
Refleksi ini membuat saya menyadari hal sederhana: etika tidak hanya berlaku di dunia nyata. Ruang digital seharusnya juga jadi tempat yang aman, ramah, dan penuh dengan rasa hormat. Kebebasan berekspresi bukan berarti bebas menyakiti. Di tengah kebebasan yang ada, tanggung jawab moral justru semakin penting.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, kita memiliki kesempatan untuk membentuk budaya digital yang lebih sehat. Bukan dengan aturan yang terlalu ketat, tetapi dengan rasa tanggung jawab bersama bahwa setiap kata yang digunakan memiliki pengaruhnya sendiri. Dengan memilih untuk lebih bijaksana, lebih penuh empati, dan lebih bertanggung jawab, kita bisa perlahan mengubah tampilan dunia digital menjadi lebih berlandaskan nilai manusia.