Oleh Nashita Ramadhani (A1F025109), Fakultas Pertanian
Salah satu hal yang membuat momen santai di kos terasa lebih lengkap adalah camilan atau semangkuk mi instan. Saat menggulir media sosial, menonton film, atau sekadar beristirahat, makanan sering kali menjadi pelengkap suasana. Tidak jarang, momen tersebut diunggah ke media sosial sebagai bagian dari keseharian. Namun, dari hal sesederhana itu, selalu ada komentar yang justru merusak suasana. Alih-alih memberikan tanggapan positif, sebagian orang mendadak menjadi ahli gizi. Komentar yang disampaikan berkisar pada kandungan monosodium glutamat (MSG), bahan pengawet, hingga ceramah mengenai pola hidup sehat dengan nada yang terasa menghakimi.
Hal yang sering terlupakan adalah tidak semua komentar merupakan bentuk kepedulian. Terkadang, sesuatu yang diklaim sebagai upaya mengingatkan justru terasa seperti bentuk menyalahkan. Kalimat seperti, “Yakin mau makan itu? Tidak takut sakit?” atau “Itu tidak sehat, mengapa masih dimakan?” mungkin terdengar biasa bagi orang yang mengucapkannya. Namun, di ruang publik, kalimat semacam itu sering kali terasa terlalu mencampuri pilihan pribadi seseorang. Menurut saya, pada titik inilah batas antara mengingatkan dan merendahkan menjadi sangat tipis hingga berpotensi mengarah pada food shaming, bahkan cyberbullying.
Dampaknya tidak dapat dianggap remeh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komentar negatif di media sosial memiliki pengaruh nyata terhadap kesehatan mental, mulai dari menurunkan rasa percaya diri hingga memicu kecemasan. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah mengingatkan bahwa cara masyarakat berinteraksi di ruang digital memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan mental.
Jika dipikirkan lebih jauh, kesehatan seseorang tidak dapat dinilai hanya dari satu unggahan makanan. Kita tidak pernah mengetahui pola makan seseorang secara menyeluruh, kondisi kesehatannya, maupun situasi hidup yang sedang dihadapinya. Namun, di media sosial, setiap orang seolah memiliki otoritas untuk memberikan penilaian berdasarkan satu foto yang sejatinya hanya merepresentasikan sebagian kecil kehidupan orang lain. Kemudahan berinteraksi di ruang digital membuat batas etika menjadi kabur sehingga banyak orang merasa bebas menyampaikan komentar tanpa mempertimbangkan dampaknya. Tidak sedikit pula yang menjadikan kolom komentar sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih memahami persoalan gizi atau menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Sekilas, perilaku tersebut tampak biasa. Namun, kenyamanan orang lain sering kali menjadi pihak yang dikorbankan.
Bagi mahasiswa, terutama yang hidup di perantauan, makanan seperti mi instan tidak selalu sekadar mencerminkan pilihan yang praktis atau kurang sehat. Di balik seporsi mi instan, sering kali terdapat cerita yang tidak diketahui orang lain. Makanan tersebut dapat menjadi teman saat menyelesaikan tugas hingga larut malam, penyelamat pada akhir bulan ketika kondisi keuangan terbatas, atau bentuk penghargaan sederhana setelah menjalani hari yang melelahkan. Oleh karena itu, komentar yang merendahkan pilihan makanan seseorang tidak hanya menyinggung makanannya, tetapi juga menunjukkan kurangnya empati terhadap situasi yang mungkin sedang dihadapi orang tersebut.
Menurut saya, inilah saatnya kita menjadi lebih bijaksana. Pilihan makanan merupakan ranah pribadi, sedangkan cara kita berkomentar merupakan tanggung jawab di ruang publik. Tidak semua hal perlu dikomentari, terlebih apabila komentar tersebut hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Apabila tujuan utamanya adalah memberikan edukasi, masih banyak cara yang lebih santun dan empatik. Tanpa empati, edukasi dapat dengan mudah berubah menjadi intimidasi yang dibungkus dengan kata-kata yang terdengar baik.
Pada akhirnya, kita dapat memulai dari langkah sederhana, yaitu berhenti menjadi polisi makanan di media sosial. Tidak semua hal harus dikoreksi dan tidak semua orang perlu dinilai. Terkadang, memilih untuk tidak berkomentar merupakan pilihan yang lebih bijaksana. Apabila ingin menyampaikan pendapat, pastikan komentar tersebut mampu membuat orang lain merasa dihargai karena di balik setiap unggahan, selalu ada cerita yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak di layar.