BEM Unsoed – Telah dilaksanakan salah satu program kerja dari Kementerian Analisis Isu Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Anstrat BEM Unsoed) 2026, yaitu Berkumpul untuk Berdialog (Bulog) pada hari Kamis (24/09) pukul 18.30–21.00 WIB di Pendopo Utama Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unsoed. Bulog merupakan kegiatan yang memberikan ruang diskusi dan pencerdasan. Bertepatan dengan hari Kamis terakhir pada September Hitam, Bulog #2 mengusung tajuk “Dari Massa ke Massa: Merawat Ingatan, Melanjutkan Perlawanan” untuk menjadi ruang kilas balik atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan September, terutama serangkaian isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan kekerasan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya cukup untuk dikenang, tetapi juga perlu terus dibicarakan supaya tidak hilang dari ingatan.

(Sumber: Kementerian Analisis Isu Strategis)
Rangkaian kegiatan Bulog #2 diawali dengan pembukaan oleh moderator. Selanjutnya, terdapat sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari Project Officer Bulog #2, Menteri Anstrat, dan Presiden BEM Unsoed 2026. Memasuki sesi inti, moderator mengenalkan pembicara kepada peserta, kemudian melanjutkan kegiatan ke sesi diskusi, sesi tanya jawab, dan sesi kesimpulan. Sebelum memasuki akhir kegiatan, dilakukan penyerahan sertifikat kepada pembicara dan terdapat dua penampilan dari kementerian. Sebagai penutup dari Bulog #2, terdapat aksi simbolik berupa menebar bunga dan menyalakan lilin, kemudian dilakukan sesi dokumentasi serta penutupan oleh moderator.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan dapat menarik antusiasme peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam pelaksanaan Bulog #2, Kementerian Anstrat, Fitri Agustina dan Sidiq Adi Purnama selaku pembicara, serta peserta diskusi turut aktif meramaikan kegiatan. Melalui Bulog #2, peserta diskusi diajak untuk menolak lupa dan merawat ingatan terhadap berbagai peristiwa yang pernah terjadi sekaligus membuka ruang dialog untuk memahami persoalan secara lebih kritis.
Penulis: Kementerian Analisis Isu Strategis
Editor: Maya Widya Hapsari