Category: Inovasi

Memahami Kunci Inovasi

Posted: 11 Agustus 2016
Comments: 0

[et_pb_section admin_label="section"][et_pb_row admin_label="row"][et_pb_column type="4_4"][et_pb_text admin_label="Teks" background_layout="light" text_orientation="left" use_border_color="off" border_color="#ffffff" border_style="solid" text_font_size="16"]

Kita bisa belanja ide dengan jalan-jalan ke toko-toko elektronik dan alat rumah tangga sehari-hari, khususnya di Jepang. Produk-produk dengan desain baru, atau bahkan produk-produk baru yang sebelumnya tidak pernah kita lihat.

Sebelum membahas contoh-contoh inovasi yang ada, ada pertanyaan menarik dan lebih mendasar, yaitu kenapa orang-orang di negara-negara maju gencar dan terus melakukan inovasi? Jawabannya juga berangkat dari permasalahan yang mereka hadapi.

Lalu permasalahan mendasar apa sehingga mereka dikejar-kejar harus selalu melakukan inovasi? Ya kalau mereka tidak melakukan inovasi, maka mereka akan kalah, tergilas oleh negara-negara yang bisa memproduksi barang dengan lebih murah.

Contoh sederhana saja, upah pekerja mereka jauh lebih mahal daripada upah rata-rata di negara berkembang. Untuk itu mereka harus menciptakan inovasi-inovasi baru sehingga produk-produk mereka bisa tetap unggul atau bahkan bisa menciptakan pasar baru.

"Untuk itu mereka harus menciptakan inovasi-inovasi baru sehingga produk-produk mereka bisa tetap unggul atau bahkan bisa menciptakan pasar baru"

Ada beberapa contoh inovasi yang itu berangkat dari permasalahan. Kata teman saya, jalan-jalan di Tokyo banyak yang naik-turun (istilah tepatnya: banyak tanjakan dan turunan). Agar sepeda bisa laku di Tokyo, perlu ada inovasi baru, yaitu sepeda ontel yang dilengkapi daya tambahan bertenaga listrik.

Masih seputar sepeda, untuk melayani keluarga muda yang punya bayi. Mode lama adalah dengan memasang kursi atau keranjang duduk untuk bayi ke sepeda. Perkembangan terbaru, kursi atau keranjang duduk untuk bayi yang dirancang khusus sebagai bagian dari sepeda. Ini akan membuat sepeda ber-kursi atau ber-keranjang yang lebih nyaman dan aman.

Satu produk inovasi lainnya yang cukup menarik adalah waslet (sistem "cebok") dengan tombol elektronik pada tempat kita BAB. Ini akan sangat memudahkan sekali. Setelah selesai BAB, atau menjelang selesai, kita bisa pencel tombol yang akan mengaktifkan penyemprotan air dari arah bawah belakang (maaf) dubur kita, dengan volume atau tekanan air yang bisa kita atur.

Yang menarik, ini tidak hanya di kawasan tertentu, tetapi ada di toilete/WC di kawasan bandara, di hotel/guest house, dan juga di masjid. Yang ada di kita (di Indonesia) atau minimal yang saya temukan, masih dalam bentuk yang sederhana, perlu buka kran tertentu yang sudah disiapkan. Kalau ini beda, kita bukan membuka kran, tetapi menekan tombol elektronik untuk mengaktifkan dan menonaktifkan kembali semprotan air cebok.

Inovasi yang memudahkan, dan saya yakin, pasar di Indonesia sangat "welcome" menyambut produk inovasi sistem waslet dengan tombol elektronik.

Namun produk inovasi ini sepertinya tidak akan laku keras di Jerman. Inovasi waslet seperti itu juga tidak akan dilakukan (oleh perusahaan-perusahaan) di Jerman, karena mereka lebih suka cara kering dalam membersihkan kotoran tertinggal bekas BAB, yaitu dengan kertas tisu WC saja.

Permasalahan di Jerman bukan bagaimana menyemprotkan air "cebok" dengan mudah, tetapi bagaimana tisu WC tersedia. Akan menjadi masalah besar bagi warga Jerman jika produksi/suplai tisu WC terhenti.

Pelajarannya: menentukan arah inovasi sangat penting, yaitu harus "bertanya" (atau mengetahui betul) apa yang menjadi kebutuhan atau permasalahan konsumen. Contoh klasik, bagaimana Korea (dengan LG dan Samsung) bisa menenggelamkan Jepang (Panasonics) terkait produk-produk TV mereka, yaitu antara teknologi plasma dan teknologi LED. Pilihan LG dan Samsung lebih tepat, karena sebelumnya mereka mengirim orang ke seluruh dunia untuk memastikan apa sih kebutuhan mereka (gambar bagus, tetapi murah).

"Menentukan arah inovasi sangat penting, yaitu harus "bertanya" (atau mengetahui betul) apa yang menjadi kebutuhan atau permasalahan konsumen"

Di lain pihak, Panasonic disinyalir satu arah dalam melakukan arah inovasi, yaitu kualitas gambar yang excellent, dengan harga berapa pun konsumen akan menyesuaikan. Ternyata inovasi satu arah tanpa meminta masukan konsumen dengan utuh telah membuat Panasonics salah arah.

Fasilitas produksi masal telah dibangun, tetapi produknya kalah bersaing, akhirnya rugi dengan investasi yang dilakukan. Ini mengingatkan kita akan pentingnya inovasi dengan melihat kebutuhan atau permasalahan sebenarnya secara lebih utuh.

Semoga bermanfaat. Dan tulisan ini, banyak bersumber dari bincang-bincang dengan Dr. Arief B. Witarto yang bersedia mengantar dan menemani saya untuk belanja ide di sebuah toko elektronik dan peralatan rumah tangga/peralatan sehari-hari.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.