Halo, Sobat Gensoed!
Pernah enggak, sih, Sobat menemukan kalimat seperti, “Suaranya menggelegar membelah angkasa,” atau “Hatiku hancur berkeping-keping” saat membaca buku, terutama novel? Kalau dipikir-pikir, kalimat-kalimat tersebut memang terdengar seperti ungkapan biasa, ya. Padahal, di baliknya, ada penggunaan gaya bahasa atau majas yang membuatnya terdengar lebih ekspresif.
Sobat Gensoed pasti sudah tidak asing lagi dengan personifikasi, hiperbola, atau metafora, kan? Majas-majas tersebut memang cukup sering kita temui dan pelajari, bahkan sejak di bangku sekolah dasar. Namun, tahukah Sobat kalau majas ternyata tidak berhenti di situ saja? Ada banyak jenis majas lain yang mungkin masih terdengar asing, namun sebenarnya menarik dan bisa kita temukan dalam berbagai tulisan.
Nah, di Nulispedia edisi kali ini, yuk, kenalan dengan beberapa majas yang belum familiar dan cari tahu seperti apa penggunaannya dalam tulisan!
Kementerian Media Kreatif dan Aplikatif (Medkraf) BEM Unsoed secara eksklusif menghadirkan Nulispedia untuk berbagi ilmu kepada Sobat Gensoed semua. Sudah siap belajar bersama? Yuk, kita simak pembahasannya~
- Sinekdoke
Pernah dengar ungkapan “belum terlihat batang hidungnya”? Tenang, yang ditunggu bukan hidungnya saja, kok! Ungkapan tersebut merupakan contoh majas sinekdoke, yaitu majas yang menggunakan bagian dari sesuatu untuk mewakili keseluruhan atau sebaliknya.
Contoh:
“Sudah satu jam, tetapi batang hidungnya belum juga terlihat.”
Kata “batang hidung” digunakan untuk merujuk pada seseorang secara keseluruhan, Sob.
- Oksimoron
Majas yang satu ini ini menggabungkan dua hal yang bertentangan untuk menghasilkan ungkapan dengan makna atau kesan tertentu.
Contoh:
“Di tengah keramaian, ia justru merasakan kesunyian.”
“Keramaian” dan “kesunyian” merupakan dua keadaan yang bertentangan, tetapi digunakan bersama untuk menggambarkan perasaan tokoh.
- Alusio
Sobat pasti sudah mengenal nama Malin Kundang, Romeo dan Juliet, atau Sangkuriang, kan? Dalam sebuah tulisan, ternyata nama-nama tersebut bisa digunakan tanpa harus menjelaskan kembali kisah di baliknya. Nah, majas alusio merupakan gaya bahasa yang merujuk secara tidak langsung pada tokoh, peristiwa, tempat, atau karya yang sudah dikenal untuk menyampaikan maksud tertentu.
Contoh:
“Jangan sampai kesuksesan membuatmu menjadi Malin Kundang.”
Penyebutan “Malin Kundang” digunakan untuk menggambarkan seseorang yang melupakan atau durhaka kepada orang tuanya. Pembaca dapat memahami maksud tersebut karena sudah mengenal kisah Malin Kundang.
- Eufemisme
Ada beberapa kata yang sebenarnya punya makna kurang nyaman jika disampaikan secara langsung. Oleh karena itu, kita bisa menggunakan ungkapan yang lebih halus untuk menyampaikannya. Majas eufemisme merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata atau ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti kata yang dianggap kasar, kurang sopan, atau kurang nyaman didengar.
Contoh:
“Kakek telah berpulang.”
Kata “berpulang” digunakan sebagai ungkapan yang lebih halus untuk menggantikan kata “meninggal”.
- Zeugma
Majas Zeugma merupakan majas yang menggunakan satu kata untuk menghubungkan dua unsur atau lebih, tetapi kata tersebut memiliki hubungan atau makna yang berbeda pada masing-masing unsur.
Contoh:
“Ia kehilangan dompet dan kesabarannya.”
Kata “kehilangan” digunakan untuk “dompet” dan “kesabaran”. Namun, kehilangan dompet dan kehilangan kesabaran tentu memiliki makna yang berbeda.
Ternyata, majas punya banyak jenis dengan karakteristik yang berbeda-beda, ya, Sob! Lima majas tadi hanyalah sebagian kecil dari beragam gaya bahasa yang bisa kita temui. Dengan mengenali berbagai jenis majas, kita jadi lebih mudah memahami maksud di balik suatu ungkapan dan enggak bingung lagi ketika menemukan kalimat yang terdengar asing.
Sampai jumpa di Nulispedia edisi berikutnya!