Ikan hiu makan gurita, cakeppp, halo Sobat Gensoed yang berbahagia! Kembali lagi bersama Ruang Karsa, nih. Kali ini, ada sesuatu yang spesial karena edisi ini memuat karya Sobat dalam bentuk tulisan, lho. Sudah tidak sabar, Sob? Yuk, kita lihat rangkaian-rangkaian kata yang Sobat Gensoed buat menjadi sebuah harmoni yang indah~


We Used to Talk for Hours, Look at Us Now

I miss us. I miss the way we mingle in a cute way that makes me flustered in a certain way.

Did you miss us? Miss everything we had, everything we feel.

Forgotten birthday, missed messages. Everything turned cold and we became strangers.

All the words you feed me become the sorrowness I felt, though it didn’t last. I hope a thought of me crosses your mind.

Every stories became hidden and you’ve became mysterious; we might as well never know each other. But if I crossed paths with you, might I hug you?

In another parallel, you’d be mine and I’d be yours. Did God let us have that?

If God let us talk again, would you have become different? Did your wish to God come true? Am I the one who yearns without endless reciprocation.

Might as well call me dumb, but the feelings I had were true. I can’t replace you, I miss you so bad.

Hey, it was me. After I decide, I’ll forget you. You’re the sweetest thing I ever felt in my entire life. Yes, being ignored was something I hated since I was a child.

Maybe it’s time to let you go and be happy. You’d deserve it, every people might give you memories especially me. But I hope it gave you a lesson and you will be a better person in the future.

Might as well leave a note here, I love you for the last time, Athena. You’d still be the prettiest soul I’ve ever seen. Everything you write is still saved in my phone. It should be my last letter and words about you.

See you in the future, if our paths cross again.

Jenis Karya: Puisi
Nama: Annas Sazkia Az-zahra
Nomor Induk Mahasisw (NIM): F1F025017
Fakultas/Program Studi (Prodi): Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)/Hubungan Internasional
Judul Karya: We Used to Talk for Hours, Look at Us Now
Makna Karya: Tulisan yang sudah basi, sih. Soalnya, ini merupakan salah satu tulisan gagal move on (gamon) aku setelah 3 tahun pisah dari redacted. Tetapi, di akhir kucantumkan kalau semuanya sudah berakhir seiring berjalannya waktu, bahwa yearning itu enggak seenak itu dan gamon—apalagi sama yang sudah pasti enggak mau ke kamu—itu enggak enak


Fatamorgana

Euforia bersorai-sorai pada sudut isi kepala yang runyam.

Titik efameral kembali berdebah kepada lembah yang penuh faktitius.

Eonia seorang gadis kecil, tak lebih lugu dari hujan bulan Juni.

Terhimpit fatamorgana pada ujung hamparan samudra.

Lebur, terpaut dersik ombak di pesisir buana.

Membelai nyiur kelapa pada amukan semesta yang tak berkesudahan.

Dia menjejaki setiap sisi bibir pantai yang kian bergelut dengan debur ombak.

Sedang jejakmu buram, melebur pada arungan debur pasir.

Manusia itu enggan terberai sia-sia namun tangannya tak jemu menuai.

Menampaki petilasan suci, membelora meminta kasih.

Seperti anak-anak yang selalu dikasihi ayah pada malam tiba.

Meringkuk tak berdaya sayogyanya karang diterpa pasang surut.

Mendengus gusar pada ambang batas, menjayakan hal yang paling gundah untuk gugur.

Tak mengapa, aksara ini hanya bait fatamorgana.

Kian berlagak, bak seorang kutu buku.

Sedangkan aksara rumpang ini kau hibahkan kepada fatwa bumantara.

Jenis Karya: Puisi
Nama: Auria Pratiwi Yuniarti
Nomor Induk Mahasiswa (NIM): H1B024009
Fakultas/Program Studi (Prodi): Fakultas Teknik (FT)/Teknik Sipil
Judul Karya: Fatamorgana
Makna Karya: Dalam Fatamorgana, tokoh aku menggambarkan bagaimana hidupnya dipenuhi ilusi harapan yang tampak nyata, tetapi terus menghilang ketika didekati. Ada gambaran tentang seseorang yang berjalan melalui ingatan dan kenyataan yang terus berubah, seperti jejak kaki yang terhapus ombak. “Aku” ingin memperjuangkan kasih, menapaki petilasan masa lalu, tetapi yang didapat hanyalah kehilangan yang terus berulang. Puisi ini menunjukkan kegetiran karena menyadari bahwa apa yang dikejar adalah ilusi, fatamorgana yang membuai, tetapi tidak pernah bisa digenggam. Pada akhirnya, “aku” merelakan bahwa seluruh aksara yang ditulis hanyalah refleksi kosong, hibah kepada semesta, tanpa pernah membentuk kenyataan yang benar-benar ada


Serendipiti

Ruas takdir mana agaknya yang mengiyakan kita ada?

Membual kepada harsa, menyisipkan lara.

Seperti sebuah surat edaran yang pelik.

Berbeda dengan kau, spontan dan sedikit sporadis.

Ternyata definisi tentang kau begitu sukar untuk sekedar dipetik intisarinya.

Kau? Ketersengajaan yang kulumat tanpa aba.

Sesudahnya kau menari-nari seumpama ballerino.

Menggelitik sisi-sisi kosong hati.

Seperti pengantar tidur, aku mendambakan netranya yang indah.

Sekejap memberi kantuk tak berkesudahan pada daksa ini.

Memintal amukan obsesi yang melucuti tutur batin.

Nahas, hal ini telah berepilog setelah berdesis dengan kata prolog.

Bagaimana atma kita pada akhirnya terberai pada bentang ego yang membabi buta?

Meluluhlantakkan kisah nan elok yang telah lahir.

Namun tewas sebelum tumbuh sempurna.

Sudahlah, ini usai.

Jenis Karya: Puisi
Nama: Auria Pratiwi Yuniarti
Nomor Induk Mahasiswa (NIM): H1B024009
Fakultas/Program Studi (Prodi): Fakultas Teknik (FT)/Teknik Sipil
Judul Karya: Serendipiti
Makna Karya: Dalam puisi Serendipiti, tokoh aku merefleksikan hubungan yang hadirnya kebetulan, tetapi berdampak mendalam. “Aku” melihat kehadiran orang itu sebagai sesuatu yang spontan, liar, dan sulit dipahami, tetapi justru itulah yang membuatnya memikat. Hubungan tersebut terasa seperti keindahan yang tak pernah sepenuhnya bisa dimengerti, sesuatu yang dilumat “tanpa aba”. Ada masa-masa manis, ada rasa mendambakan, ada obsesi yang perlahan tumbuh. Namun, hubungan itu pecah bukan karena kekurangan cinta, melainkan karena ego yang saling menyeret, membuat kisah itu “tewas sebelum tumbuh sempurna”. Puisi ini adalah ratapan atas sesuatu yang indah, tetapi rapuh, sebuah pertemuan yang seharusnya menjadi anugerah, tetapi berakhir hanya sebagai prolog yang tidak pernah mencapai bab berikutnya


Uwahh … mengharukan semua ya, Sobat. Mimin sampai meneteskan air mata karena rangkaian kalimat yang indah di atas. Apakah Sobat seperti itu juga? Sampai jumpa di Ruang Karsa selanjutnya!