Weekly Report #26

19 September 2026 Oleh Media Kreatif dan Aplikatif 7 menit baca

Halo, Sobat Gensoed! 

Akhir-akhir ini, rasanya berita datang tanpa jeda, ya, Sob. Baru selesai membahas satu kabar, sudah ada kabar lain yang ikut menyusul. Di tengah “age of bad news” seperti sekarang, penting bagi kita untuk tetap mengetahui apa yang terjadi tanpa kehilangan rasa empati. Nah, melalui Weekly Report pekan ini, Mimin kembali merangkum berbagai kabar yang menjadi sorotan selama sepekan terakhir.

Yuk, luangkan waktu sebentar untuk membaca dan tetap bersama-sama peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita, Sob!


Rentetan Gempa Guncang Sejumlah Wilayah: BMKG Peringatkan Potensi Megathrust Selat Sunda

(Sumber: detik.com)

Beberapa waktu terakhir, berbagai wilayah Indonesia terasa cukup sering berguncang, Sob. Gempa bermagnitudo 4 hingga 6 terus terjadi mulai dari Maluku Utara sampai sekitar Selat Sunda. Di tengah rentetan itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat bahwa zona Megathrust Selat Sunda memiliki potensi gempa hingga sekitar 8,9 magnitudo. 

Memangnya gempa apa saja yang terjadi akhir-akhir ini? 

Pada hari Selasa (01/09), terjadi gempa bermagnitudo 5,4 di Laut Halmahera Tengah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sekitar 15 kepala keluarga terdampak oleh bencana ini. Di hari yang sama, gempa M4,3 mengguncang Cianjur, Jawa Barat. Lalu pada hari Jum’at (04/09), gempa M5,3 terjadi di laut sekitar 59 km selatan Cilacap. 

Pada pekan berikutnya, hari Minggu (13/09), terjadi gempa berkekuatan M4,3, dengan pusat gempa berada di laut selatan Sukabumi. Pada hari Senin (14/09), gempa berkekuatan M5,5 terjadi di laut barat daya Bayah, Banten. Selain itu, BMKG mencatat 42 kejadian gempa sejak hari Rabu (16/09) hingga hari Kamis (17/09), dengan magnitudo terbesar mencapai M3,1. Lalu, pada hari Jumat (18/09), BMKG mencatat gempa berkekuatan M5,2. Hiposentrum gempa berada sekitar 198 kilometer barat daya Bayah.

Selain itu, gempa M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada hari Sabtu (15/08) masih menyisakan dampak hingga saat ini. BNPB mencatat 48 orang meninggal dunia akibat dampak langsung gempa, sementara 94 orang lainnya meninggal saat berada di pengungsian akibat dampak tidak langsung. Dengan demikian, total korban meninggal yang tercatat mencapai 142 orang. 

Kenapa, sih, bisa muncul peringatan soal Megathrust Selat Sunda, Min?

Perhatian terhadap potensi Megathrust Selat Sunda bukan berarti rentetan gempa yang terjadi selama beberapa waktu terakhir merupakan tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi. BMKG menegaskan bahwa zona ini memang memiliki potensi gempa hingga sekitar M8,9 berdasarkan kajian ilmiah mengenai sumber gempa, tetapi angka tersebut merupakan potensi maksimum dan bukan prediksi waktu terjadinya gempa. Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat mengenai kapan, di mana, dan seberapa besar kekuatannya.

Zona tersebut juga dikenal mengalami seismic gap, yaitu wilayah yang dalam catatan sejarah belum mengalami gempa besar dalam waktu yang panjang. Berdasarkan kajian BMKG, gempa besar terakhir di kawasan Megathrust Selat Sunda tercatat pada tahun 1757. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kawasan ini tetap menjadi perhatian dalam kajian risiko gempa dan tsunami.

Lalu apa, dong, yang seharusnya kita lakukan? 

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik menanggapi informasi mengenai potensi Megathrust Selat Sunda, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, perlu mengetahui jalur evakuasi serta titik aman apabila terjadi gempa kuat yang berpotensi diikuti tsunami. Kondisi bangunan juga perlu diperhatikan agar dapat mengurangi risiko ketika terjadi guncangan kuat.

Apabila terjadi gempa kuat atau berlangsung cukup lama di wilayah pesisir, masyarakat perlu segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu informasi tambahan jika kondisi mengharuskan evakuasi. Informasi mengenai gempa dan peringatan tsunami selanjutnya perlu mengikuti arahan resmi BMKG serta petugas di lapangan.

Jadi, Sob, gempa bumi memang belum dapat diprediksi secara pasti, tetapi risikonya bisa diantisipasi. Masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan, sementara pemerintah juga perlu memastikan sistem peringatan dini, informasi kebencanaan, jalur evakuasi, dan penanganan darurat dapat berjalan secara cepat dan terkoordinasi. Dengan begitu, ketika bencana benar-benar terjadi, masyarakat tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga mendapat respons yang sigap dari pemerintah. 

Semoga kita semua selalu dalam keadaan selamat dan tetap siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana, ya, Sob!


20 Kapal Dikerahkan dalam Pencarian Jurnalis yang Hilang saat Meliput Erupsi Anak Krakatau

(Sumber: CNA.id)

Belum pulih dari bencana yang lain, kabar duka kembali datang menghampiri tanah air, Sob. Terdapat lima jurnalis dan tiga kru dinyatakan hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada hari Senin (07/09). Koneksi sinyal ponsel para jurnalis tiba-tiba saja terputus, sementara speedboat dan delapan penumpang tidak lagi bisa dihubungi pada pukul 15.04 WIB di tengah peringatan gelombang tinggi 2,5–4 meter dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Astaga! Lalu bagaimana informasi terbaru terkait penanganan para korban, Min?

Dalam operasi pencarian jurnalis dan anak buah kapal (ABK) yang hilang, Tim Search and Rescue (SAR) mengerahkan sebanyak 20 unit kapal yang dibagi ke dalam lima sektor utama. Penanganan ini juga melibatkan 325 personel matra laut, serta 422 personel yang berkoordinasi di posko barat. Tim SAR mencari di sektor A seluas 1.026 NM di sekitar Teluk Belimbing (Lampung), di sektor B menyisir area sepanjang 780 NM di sekitar Pulau Panaitan, dan pada sektor C Tim SAR gabungan menyisir area 825 NM antara wilayah timur laut Pulau Panaitan hingga pesisir Gunung Anak Krakatau. Namun, pencarian ini masih belum menghasilkan petunjuk keberadaan rombongan yang hilang. 

Siapa saja yang menjadi korban dalam bencana ini? 

Daftar korban yang hilang di antaranya M. Bagus Khoirunnas (jurnalis Antara), Arie Basuki (jurnalis Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (jurnalis iNews), Firman Daus (jurnalis Anadolu Agency), Donal Husni (jurnalis lepas), Warta/Surahman (kapten kapal), Sukarman (ABK), dan Heriyanto (pemandu).

Doa bersama untuk para korban telah digelar di lapangan depan Gedung Kura-Kura Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Senayan, Jakarta pada hari Jumat (18/09) dan dihadiri langsung oleh Koordinatoriat Parlemen Wartawan (KWP). 

Sedih sekali … di tengah pencarian yang belum membuahkan hasil, bagaimana kondisi keluarga korban, Min?

Rasa duka sangat menyelimuti keluarga korban. Mereka berharap akan datang kepastian dalam penanganan yang dilakukan selama 10 hari ini. Akan tetapi, sejauh ini hasil pencarian belum dapat memberikan kepastian kabar para korban. Pencarian terhadap korban wartawan yang hilang sayangnya harus diberhentikan. Hal ini disebabkan karena tidak efektifnya operasi pelaksanaan yang terhalang oleh asap dan kabut. Operasi SAR akan berjalan kembali ketika terdapat tanda-tanda atau petunjuk yang berkaitan dengan keberadaan korban. 

Semoga proses pencarian dapat secepatnya menunjukkan titik terang keberadaan para korban, ya, Sob.


Sempat Terhenti karena Anggaran, Trans Banyumas Siap Kembali Beroperasi

(Sumber: kompas.com)

Setelah mengalami pemberhentian selama 19 hari lamanya, Trans Banyumas kini kembali beroperasi sejak hari Jumat (18/09). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas telah berkomitmen akan terus mempertahankan Trans Banyumas karena layanan tersebut menuai respons positif dari masyarakat sekitar. Oleh karena itu, Pemkab Banyumas menjalankan strategi untuk melakukan pemanfaatan karoseri bus sebagai media iklan. Selanjutnya, akan ditentukan regulasi untuk nilai wajar biaya pemasangan iklan. Hal ini dilakukan sebagai tambahan pemasukan untuk menjaga operasional Trans Banyumas pada tahun 2027.

Eh, kenapa, sih, sebelumnya Trans Banyumas bisa sampai diberhentikan?

Jadi, Sob, pemberhentian layanan Trans Banyumas yang dimulai pada hari Minggu (30/08) oleh Kepala Dinas Perhubungan (Dinhub) ini dilakukan karena berkaitan dengan adanya kebutuhan evaluasi setelah proses peralihan pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ke Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Selama pemberhentian berlangsung, Pemkab Banyumas menyatakan komitmennya untuk menyediakan transportasi umum yang terjangkau, nyaman, aman, tertib, serta memiliki kepastian pelayanan. Strategi Pemkab Banyumas adalah menyiapkan anggaran sekitar Rp14 miliar untuk membiayai operasional Trans Banyumas sampai akhir tahun 2026, juga meminta dukungan kepada Kementerian Perhubungan agar anggaran dari pemerintah pusat tetap berlanjut. 

Lalu, apakah ada kenaikan harga untuk tarif umum Trans Banyumas? 

Tenang, Sob, tarifnya tidak berubah, kok. Penumpang umum dikenai tarif sebesar Rp3.900, sementara untuk pelajar, lansia dan disabilitas dikenai tarif sebesar Rp2.000.

Koridor yang dilayani oleh Trans Banyumas di antaranya:

  1. Koridor 1 dengan rute Ajibarang–Pasar Pon–Stasiun Purwokerto–Kota (SMAN 1 Purwokerto)
  2. Koridor 2 dengan rute Terminal Notog Patikraja–Terminal Baturraden
  3. Koridor 3 yang terbagi menjadi Koridor 3A dan Koridor 3B. Koridor 3A melayani rute Terminal Bulupitu–Tanjung–Stasiun Purwokerto–Univesitas Wijayakusuma Purwokerto (Unwiku)–Beji–Dukuhwaluh–Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)–Kebondalem–Terminal Bulupitu, sedangkan Koridor 3B melayani rute UMP–Beji–Unwiku–Stasiun Purwokerto–Terminal Bulupitu.
  4. Koridor 4 terintegrasi dengan jaringan Trans Banyumas melalui Terminal Bulupitu dan melayani perjalanan menuju Kota Lama Banyumas.

Trans Banyumas juga akan beroperasi pada jam operasional yang sama seperti sebelumnya, yaitu mulai dari pukul 04.45–20.30 WIB.

Nah, untuk Sobat yang merupakan pengguna setia Trans Banyumas, jangan khawatir lagi karena transportasi ini sudah siap untuk kembali menemani kalian ke mana saja dengan budget yang tentunya sesuai di kantong mahasiswa!


Penulis: Aulia Intan Maharani & Azizah Fatma Haifa Chairunnisa

PENULIS / KONTRIBUTOR

Media Kreatif dan Aplikatif

Diterbitkan pada 19 September 2026