Halo, Sobat Gensoed!

Enggak terasa, ya, kita sudah mencapai akhir bulan Agustus. Ironisnya, di bulan kemerdekaan negara kita ini, rasanya justru lebih banyak berita buruk yang terus terdengar. Akan tetapi, biar kondisi kita sedang tidak baik-baik saja, semoga Sobat tetap selalu semangat menjalani hari-hari, ya. 

Nah, di Weekly Report pekan ini, Mimin sudah mengumpulkan tiga berita paling hangat dalam sepekan terakhir, supaya Sobat tetap update dengan isu-isu yang terjadi. Selamat membaca, Sob!


Kampus Darurat Integritas: Menyoal Kasus Korupsi Rektorat Unsoed

(Sumber: voi.id)

Duka datang dari dunia pendidikan tinggi, Sob. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Akhmad Sodiq, sebagai tersangka kasus pemerasan dan gratifikasi dalam penerimaan mahasiswa baru (PMB) jalur mandiri bersama lima tersangka lainnya pada Jumat (21/08) malam.

Bagaimana, sih, awal mula terungkapnya kasus ini, Min?

Semua berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada Kamis (20/08) di Purwokerto dan Jakarta. Terdapat total 14 orang yang diamankan, 12 di antaranya di Purwokerto dan dua di Jakarta. Tujuh dari 12 orang yang ditangkap di Purwokerto kemudian dibawa ke Jakarta sehingga total sembilan orang diperiksa intensif di Gedung Merah Putih KPK.

Lalu, siapa saja yang ditetapkan sebagai tersangka?

Selain Akhmad Sodiq, lima tersangka lainnya ialah Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Norman Arie Prayogo, Kepala Bagian Akademik Eko Sumanto, serta tiga pihak swasta, yakni Dian Mulia Wardhana, Adhi Wiharto, dan Mulyono yang juga merupakan keponakan dari Akhmad Sodiq. Keenam tersangka tersebut ditetapkan dalam perkara dugaan pemerasan dan gratifikasi terkait penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri di Unsoed. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, keenamnya langsung ditahan selama 20 hari di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK.

Waduh, sebetulnya bagaimana modus yang terjadi?

Menurut Pelaksana Harian Direktur Penyidikan KPK Ahmad Taufik Husein, kasus ini terbagi menjadi tiga klaster. Pertama, Norman Arie Prayogo diduga meminta Rp650 juta kepada orang tua calon mahasiswa Fakultas Kedokteran lewat dua perantara. Ironisnya, setelah uang dibayarkan, calon mahasiswa tersebut justru dinyatakan tidak lulus. Ketika orang tua meminta uang dikembalikan, dana itu ternyata sudah dipakai untuk keperluan pribadi, dan dijanjikan diganti melalui pencairan tiga proyek di lingkungan Unsoed, yaitu pengadaan kanopi, renovasi kantin, dan pengecatan gedung.

Kedua, Sodiq diduga memberi arahan bersandi kepada Mulyono. Dari arahan ini, Mulyono diduga menerima gratifikasi sekurang-kurangnya Rp680 juta, dan juga diperintahkan membeli tiga bidang tanah yang kemudian diatasnamakan dirinya sendiri untuk kepentingan Sodiq.

Ketiga, Eko Sumanto diduga menegosiasikan sejumlah uang dengan pihak pengepul calon mahasiswa, hingga menerima total Rp1,12 miliar. Sodiq bahkan disebut memberikan akses user ID miliknya sendiri kepada Eko agar bisa langsung mengotorisasi kelulusan mahasiswa yang telah membayar. Dari OTT ini, KPK menyita uang tunai Rp665 juta dan saldo rekening senilai Rp99 juta.

Lalu, bagaimana dengan respons pihak kampus?

Juru bicara Unsoed, Edi Santoso, menyatakan akan menghormati proses hukum dan menunggu kejelasan resmi sebelum mengambil sikap lebih lanjut. Sementara itu, mahasiswa Unsoed bersatu menolak keras praktik korupsi di kampus lewat dua gelombang aksi, dimulai dari aksi duka di depan Gedung Pusat Unsoed pada Jumat (21/08), lalu berlanjut dengan aksi yang lebih besar pada Senin (24/08) saat massa mengepung Gedung Rektorat menuntut reformasi struktural, penghapusan praktik titip menitip di jalur mandiri, hingga audit anggaran fakultas yang berujung pada tuntutan delapan poin reformasi kampus.

Pengamat pendidikan Ina Liem menilai kasus Unsoed tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan satu kampus. Menurutnya, korupsi di dunia pendidikan sudah sistemik dan masif, hanya saja selama ini jarang benar-benar sampai ke proses hukum. Ia mendorong audit menyeluruh terhadap seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia, mulai dari penerimaan jalur mandiri hingga pengadaan barang dan jasa, tanpa harus menunggu adanya OTT lebih dulu. 

Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi kita, Sob. Semoga tidak akan ada lagi praktik korupsi di lingkungan kampus, ya.


Dari Way Kambas hingga Desa Adat Sade, Kebakaran Masih Hantui Indonesia

(Sumber: spatialhighlights.com)

Asap dan api sepertinya masih belum ingin beranjak dari Bumi Pertiwi. Pada hari Jumat (21/08), kebakaran melanda kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur, disusul kebakaran hebat di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada hari Sabtu (22/08). Meskipun dua tempat yang berbeda, keduanya kini menghadapi persoalan yang sama, yakni kobaran api yang mengancam lingkungan.

Waduh, bagaimana kronologi penyebabnya, Min?

Sayangnya, penyebab kebakaran baik di Way Kambas maupun Desa Adat Sade belum diketahui secara pasti, Sob. Namun, muncul dugaan penyebab api di Desa Sade bermula dari bagian tengah kampung dan kemudian menyebar dengan cepat karena bangunan rumah mayoritas berbahan kayu, bambu, bedek, dan atap ilalang. 

Lalu bagaimana kondisi terkini di kedua lokasi terdampak?

Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa dalam kedua musibah tersebut, Sob. Gajah Sumatra yang tinggal di Way Kambas sudah dipastikan aman dan tidak terdampak langsung. Akan tetapi, kabar buruknya di Desa Sade berdampak pada sekitar 320 orang yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Mari kita doakan bersama untuk pemulihan di setiap sudut Indonesia agar tidak ada lagi yang berduka, ya, Sobat.


Banjir Bandang Melanda Perbatasan Nepal–Tibet! Ratusan Nyawa Tewas dan Ribuan Lainnya Hilang

(Sumber: detik.com)

Banjir bandang melanda wilayah perbatasan Nepal–Tibet pada hari Rabu (26/08). Bencana yang disertai material lumpur dan bebatuan tersebut menghancurkan sejumlah bangunan, jalan, serta jembatan vital dan turut mengganggu jalur perdagangan kedua wilayah. Proses evakuasi hingga kini masih berlangsung di tengah medan yang sulit.

Hiks hiks…Sedih banget! Separah apa dampak banjirnya?

Cukup parah, Sob! Berdasarkan data terbaru, jumlah korban tewas di Nepal telah mencapai 633 orang hingga hari Sabtu (29/08) pagi. Sementara itu, hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang di Nepal dan Tibet. Proses pencarian dan evakuasi pun masih berlangsung, meski terkendala cuaca serta kondisi medan yang rusak. Material longsor menutup akses menuju Gyirong dengan ketebalan yang mencapai sekitar 1,5 meter di sejumlah bagian. Pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 personel dan 150 kendaraan, termasuk anjing pelacak serta perahu cepat. Palang Merah juga mengirimkan bantuan darurat berupa selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, dan kantong jenazah.

Kira-kira apa penyebab banjirnya bisa sampai separah itu, Min?

Awalnya, getaran yang terjadi di kawasan tersebut sempat dilaporkan sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4. Akan tetapi, United States Geological Survey (USGS) kemudian mengklarifikasi bahwa getaran tersebut bukan gempa tektonik, melainkan dampak dari longsoran besar gletser dan bebatuan. Material longsoran kemudian jatuh ke Sungai Lhende Khola dan memicu banjir bandang dengan aliran lumpur yang disebut bergerak hampir 170 kilometer.

Lalu, wilayah mana saja yang terdampak?

Banjir menghantam sejumlah desa, kawasan pasar, hingga Pelabuhan Gyirong di Tibet. Kerusakan ini turut mengancam jalur perdagangan Nepal–Tiongkok karena pelabuhan tersebut menangani sekitar sepertiga perdagangan kedua negara. Nilai perdagangan keduanya pada 2024 tercatat lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp35,4 triliun.

Tragedi ini menjadi pengingat betapa besar risiko bencana di kawasan pegunungan yang rentan terhadap perubahan kondisi gletser dan cuaca ekstrem. Semoga korban hilang segera ditemukan ya, Sob.


Penulis: Azizah Fatma Haifa Chairunnisa dan Hafshoh Sirin