Halo, Sobat Gensoed!
Akhir-akhir ini cuaca sangat panas, ya? Semua orang menunggu udara dingin datang, atau bahkan kipas raksasa yang dapat mendinginkan bumi kita.
Sembari menunggunya, yuk, luangkan waktu sejenak untuk melihat kabar terkini agar Sobat selalu up to date dengan berbagai peristiwa terbaru. Let’s go!
Kesaksian Santri dan Kronologi Keracunan MBG di Ponpes Mamba’ul Hikam
Kabar sedih kembali datang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sob. Ratusan santri dan siswa di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keracunan massal usai menyantap menu MBG pada hari Selasa (01/09).
Bagaimana, sih, kronologi awal kejadiannya, Min?
Peristiwa bermula ketika sebanyak 1.010 porsi makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah tiba dan dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00–13.00 WIB. Menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Sesaat setelah makan, kondisi para santri masih terlihat normal.
Memasuki waktu sekitar pukul 15.30–16.00 WIB, satu per satu santri mulai mengeluhkan gejala seperti pusing, mual, muntah, hingga diare. Jumlah santri yang mengeluh sakit terus bertambah dalam hitungan jam sehingga pengurus pesantren sempat membawa mereka ke bidan desa, sebelum akhirnya merujuk para korban ke sejumlah rumah sakit di Sidoarjo.
Waduh, bagaimana kesaksian dari santri yang menjadi korban, Min?
Salah satu santriwati berinisial SZ (15) bercerita bahwa ia menyantap menu MBG sekitar pukul 13.00 WIB. Ia tidak menemukan keanehan pada nasi maupun lauk yang disajikan, tetapi merasakan rasa asam pada sayur tumis buncis sehingga tidak menghabiskan porsi sayur tersebut. Beberapa jam kemudian, ia mulai merasakan mual, badan lemas, dan pusing, hingga akhirnya harus mendapat penanganan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Raden Tumenggung (RSUD RT) Notopuro, Sidoarjo.
Berapa jumlah korban yang tercatat hingga saat ini, Min?
Angka korban terus bertambah dari hari ke hari, Sob. Data terbaru Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo per Jumat (04/09) mencatat total 748 orang mendapat penanganan medis akibat diduga keracunan makanan MBG ini, dengan sekitar 20 orang masih menjalani rawat inap dan sisanya sudah berstatus rawat jalan. Kabar baiknya, hingga kini belum ada laporan korban jiwa dalam insiden ini.
Lalu, apa penyebab dan tindak lanjut dari kejadian ini, Min?
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengakui adanya kelalaian dalam proses distribusi makanan. Berdasarkan penelusuran BGN, makanan sebenarnya sudah matang sejak pukul 05.00 WIB dan semestinya disantap sebelum pukul 09.00 WIB, tetapi keterangan waktu produksi pada label kemasan diduga tidak sesuai dengan kondisi di lapangan sehingga makanan baru disantap para santri di atas pukul 12.00 WIB, atau lebih dari empat jam sejak matang. Sebagai tindak lanjut, BGN menjatuhkan sanksi penghentian operasional (suspend) kategori berat selama 30 hari terhadap SPPG Kalitengah dan mencopot kepala SPPG tersebut dari jabatannya. Sampel makanan serta muntahan korban turut diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan.
Semoga seluruh santri yang masih dirawat segera pulih dan berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola distribusi MBG, ya, Sob.
Tidak Lagi Dibiayai APBN, Trans Banyumas Kini Berhenti Beroperasi
Kabar kurang menyenangkan datang dari dunia transportasi publik di Banyumas, Sob. Layanan Bus Trans Banyumas resmi berhenti beroperasi sementara sejak hari Minggu (30/08), menyusul beralihnya sumber pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banyumas.
Kok, bisa berhenti, Min? Apa penyebabnya?
Jadi begini, Sob. Selama ini, operasional Trans Banyumas dibiayai lewat skema Buy the Service (BTS) dari pemerintah pusat, tempat pemerintah membeli layanan dari operator bus agar tarif tetap terjangkau bagi masyarakat. Nah, subsidi APBN untuk skema ini dihentikan sehingga pembiayaan operasional harus dialihkan sepenuhnya ke APBD Banyumas. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas, Omar Udaya, menjelaskan bahwa penghentian sementara ini dilakukan untuk mengevaluasi operasional Trans Banyumas usai peralihan anggaran tersebut.
Bagaimana upaya Pemkab Banyumas agar Trans Banyumas bisa jalan lagi, Min?
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp14 miliar dari APBD untuk membiayai operasional Trans Banyumas hingga akhir 2026. Sayangnya, anggaran tersebut belum bisa langsung digunakan karena masih menunggu persetujuan perubahan APBD dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyumas. Di sisi lain, Komisi 2 DPRD Banyumas menyebutkan bahwa pihaknya sebenarnya tidak sepakat dengan opsi penghentian layanan ini, tetapi kondisi anggaran daerah membuat opsi tersebut sulit dihindari.
Kapan, nih, Trans Banyumas bisa beroperasi lagi, Min?
Bupati Sadewo menargetkan Trans Banyumas dapat kembali beroperasi pada (18/09), setelah proses percepatan persetujuan anggaran bersama DPRD Banyumas rampung. Ia berharap subsidi APBN melalui skema BTS suatu saat dapat kembali dikucurkan agar beban APBD Banyumas untuk moda transportasi ini bisa lebih ringan ke depannya.
Mengingat layanan ini sudah menjadi andalan mobilitas warga Banyumas, semoga Trans Banyumas segera beroperasi kembali, ya, Sob.
Unsoed Unjuk Gigi di Jepang: Mahasiswa Teknik Sipil Raih Posisi Keempat Asian Bridge Competition 2026
Prestasi mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali menembus kancah internasional. Tim mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Sipil Unsoed berhasil meraih Juara 4 atau 3rd Runner Up Kategori Presentasi dalam Asian Bridge Competition 2026 di Seiren Dream Arena, Fukui, Jepang, pada 25–28 Agustus 2026. Tim yang dibimbing dosen Indra Rio Saputro, S.T., M.Sc., Ph.D. ini terdiri atas Burhanudin Aditya Ishaq, Ignacio Immanuel Indrawan, Febrian Lorensa, Rifky Nugraha, Muhammad Rafi Aufanto, dan Rafael Albertus Marcellino Sitompul.
Wah, keren banget! Memangnya seketat apa persaingannya, Min?
Asian Bridge Competition 2026 merupakan kompetisi rancang bangun jembatan baja tingkat Asia yang diikuti 44 tim dari empat negara dan mempertandingkan lima kategori perlombaan. Persaingan semakin kompetitif karena turut diikuti delapan tim dari perusahaan profesional asal Jepang. Capaian ini menunjukkan kemampuan mahasiswa Teknik Sipil Unsoed untuk bersaing dengan mahasiswa internasional maupun praktisi industri, baik dalam aspek teknis maupun komunikasi.
Lalu, bagaimana persiapan tim Unsoed?
Perwakilan tim, Burhanudin Aditya Ishaq, mengatakan prestasi tersebut merupakan hasil persiapan rancang bangun yang dilakukan selama berbulan-bulan. Menurutnya, kompetisi ini memberikan pengalaman dalam memahami standar keteknikan global, sekaligus melatih kemampuan menyampaikan detail desain dan efisiensi struktur jembatan baja di hadapan juri internasional.
Menarik sekali, ya! Selain membawa pulang prestasi, ternyata ada banyak pengalaman yang didapat.
Keikutsertaan dalam kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa Unsoed untuk mengembangkan kemampuan teknis sekaligus soft skill, seperti komunikasi, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan penyampaian gagasan. Prestasi ini sekaligus menjadi kontribusi mahasiswa Teknik Sipil Unsoed dalam membawa nama universitas dan Indonesia di tingkat internasional.
Penulis: Angely Puspita Sari & Fitriana Oktavia