Pernah baca cerita dan langsung ngeh siapa yang ngomong meski tanpa lihat namanya?
Nah, itu karena si penulis jago pakai dialog tag! Kira-kira apa, sih, dialog tag?🧐

Medkraf BEM Unsoed secara eksklusif menghadirkan Nulispedia untuk berbagi ilmu kepada Sobat Gensoed semua. Sudah siap belajar bersama? Yuk, kita simak pembahasannya~

Apa Itu Dialog Tag?

Dialog tag adalah bagian kecil setelah atau sebelum kalimat langsung yang menunjukkan siapa yang bicara dan bagaimana cara mereka mengatakannya.

Contoh:

“Aku enggak mau menyerah!” kata Rina dengan mantap.
Bagian “kata Rina dengan mantap” itulah dialog tag-nya.

Fungsi Dialog Tag

Menjaga ritme cerita
Tag bisa jadi jeda alami di antara dialog, biar pembaca tidak capek baca percakapan panjang terus-menerus.

Menunjukkan pembicara
Supaya pembaca tahu siapa yang ngomong di tengah percakapan panjang.

Menunjukkan emosi
 Beda tag, beda rasa!
“Aku enggak peduli!” teriak Bima. (emosi marah)
“Terima kasih …,” bisik Dina. (emosi lembut)

Jenis-jenis Dialog Tag

Ternyata, dialog tag juga punya variasi, lho! Beberapa di antaranya:

Tag netral: hanya menunjukkan siapa yang bicara.

“Aku ikut,” kata Bima.

Tag emosi: menunjukkan nada atau perasaan.

“Aku ikut!” seru Bima dengan semangat.

Tag deskriptif: menambahkan sedikit suasana.

“Aku ikut,” kata Bima sambil meraih tasnya.

Dialog Tag vs Aksi

Kadang pembaca keliru membedakan antara dialog tag dan aksi. Padahal, keduanya beda fungsi, meski sama-sama mengikuti kalimat langsung.

Dialog tag: menunjukkan cara berbicara tokoh.

“Terima kasih …,” bisik Dina.

Aksi: menunjukkan gerakan atau tindakan tokoh setelah berbicara.

“Terima kasih …” Dina menghapus air matanya dengan tisu.

Catatan penting:

Dialog tag selalu diawali dengan huruf kecil (misalnya “kata”, “ujar”, “bisik”), kecuali setelah tanda seru atau tanya.

Gunakan koma sebelum dialog tag, bukan titik.

“Aku pergi sekarang,” ujar Rani. ✅

“Aku pergi sekarang.” Ujar Rani. ❌

✍️ Cara Jitu Agar Dialog Sobat Makin Keren

  • Menggunakan kata kerja sederhana, seperti kata, tanya, jawab, seru, bisik.
  • Kalau sudah jelas siapa yang bicara, tag boleh dihapus, biar lebih alami.
  • Hindari tag yang terlalu “heboh” atau aneh.

Contoh:

❌ “Ayo cepat!” sergah, bentak, dan hardik Rani dengan nada meledak-ledak.
 ✅ “Ayo cepat!” teriak Rani.

🌟Kesimpulannya:

Singkatnya, Dialog tag itu kayak garam di masakan, yang enggak kelihatan banyak, tapi bikin rasanya pas!

Jadi, mulai sekarang, yuk latih telinga Sobat sebagai penulis untuk tahu kapan harus menambahkan tag dan kapan harus diam pada dialog. Oleh karena itu, dalam tulisan diam pun bisa diartikan bicara. 😉


Penulis: Fitriana Oktavia & Tiara Cahyaning Kartiko