Halo, Sobat Gensoed!
Sobat sering lihat tanda petik ganda (“…”) dan tanda petik tunggal (‘…’) dalam sebuah tulisan, tetapi bingung kapan harus pakai salah satunya? Sekilas mereka memang mirip, sih, tetapi jangan salah, keduanya punya tugas yang jauh berbeda dalam suatu kalimat, lho!
Kementerian Media Kreatif dan Aplikatif (Medkraf) BEM Unsoed secara eksklusif menghadirkan Nulispedia untuk berbagi ilmu kepada Sobat Gensoed semua. Sudah siap belajar bersama? Yuk, kita simak pembahasannya~
Tanda petik itu fungsinya bukan cuma dipakai untuk gaya-gayaan, melainkan soal akurasi makna. Baik untuk dialog, judul karya, maupun istilah asing, semua ada aturannya, ya, Sobat! Penggunaan yang keliru berisiko membuat pesan yang disampaikan jadi sulit dipahami.
1. Tanda Petik Ganda (“…”)
Si “Ganda” ini bisa dibilang sebagai pemain inti dalam tulisan kita. Terdapat tiga fungsi utamanya yang wajib kamu tahu, nih, Sobat:
- Tanda Petik Ganda untuk Petikan secara Langsung:
Nah, tanda ini digunakan untuk mengapit ucapan langsung yang berasal dari percakapan, naskah, atau kutipan dokumen resmi.
Contoh: “Kausa Cipta hadir untuk membawa perubahan yang nyata,” tegas Presiden BEM Unsoed dalam sambutannya.
- Tanda Petik Ganda untuk Judul sebuah Karya:
Nah, tanda ini digunakan untuk mengapit judul lagu, film, artikel, puisi, atau bab buku yang sedang dibahas dalam sebuah kalimat.
Contoh: Sudah baca artikel “Pentingnya Literasi Digital” di Blog BEM Unsoed belum? Atau lagi dengerin lagu “Runtuh” dari Feby Putri sembari mengerjakan tugas?
- Tanda Petik Ganda untuk Kata Bermakna Khusus atau Sindiran:
Nah, tanda ini digunakan untuk mengapit istilah ilmiah yang masih asing bagi publik atau kata yang punya arti khusus (kiasan/sindiran).
Contoh: Mahasiswa itu dijuluki si “kutu buku” karena hampir setiap hari terlihat di perpustakaan fakultas.
2. Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Di samping itu Si “Tunggal” ini perannya lebih spesifik dan biasanya muncul di situasi tertentu saja, ya, Sobat:
- Petikan di Dalam Petikan:
Nah, ini yang sering bikin bingung. Gunakan petik tunggal di saat Sobat sedang mengutip ucapan seseorang dan di dalam ucapan itu ternyata terdapat kutipan lagi.
Contoh: “Tadi aku dengar Sella menjawab ‘siap laksanakan’ ke ketua panitia,” lapor bendahara saat sedang evaluasi.
- Makna, Terjemahan, atau Penjelasan:
Nah, ini digunakan untuk mengapit arti atau terjemahan dari kata asing maupun bahasa daerah dengan tujuan agar pembaca lebih paham terhadap apa yang dimaksudkan.
Contoh: Kita perlu melakukan brainstorming agar ide dari program kerja ini semakin matang dan solutif.
Nah, Sobat tahu enggak, sih? Berikut ini adalah kesalahan-kesalahan yang secara umum digunakan dan ditemui, lho. Jangan sampai keliru, ya!
Sering kali kita lihat tanda petik digunakan hanya untuk menekankan sebuah kata agar terlihat menonjol. Contohnya, jika Sobat menulis pengumuman di grup, “Jangan lupa kumpul rapat ‘penting’ jam 16.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) ,” maka anggota lain mungkin akan berpikir bahwa rapat yang dilaksanakan penting dan cuma main-main saja.
Lalu, bagaimana cara memberikan penekanan yang benar?
- Huruf Tebal (Bold): Untuk menegaskan poin penting atau instruksi.
Contoh: Harap kumpulkan tugas sebelum jam 12 malam.
- Huruf Miring (Italic): Untuk menekankan kata, selain fungsinya untuk istilah asing.
Contoh: Kita benar-benar harus menyelesaikan program kerja (proker) ini tepat waktu.
- Huruf Kapital (Gunakan dengan Bijak): Hanya untuk kata yang sangat krusial, tapi jangan satu kalimat penuh ya supaya enggak dikira teriak!
Contoh: Dilarang keras merokok di area ini. PENTING!
Ingat! Jika tujuannya hanya untuk penekanan (bukan istilah khusus atau judul), gunakanlah huruf tebal atau huruf miring. Jangan asal tempel tanda petik ya, Sobat, supaya tulisanmu tetap sesuai dengan kaidah.
Sini Mimin bisikin rumus simpelnya supaya Sobat bisa ingat terus:
1. Petik Ganda: Untuk kutipan utama, judul karya, dan istilah khusus.
2. Petik Tunggal: Untuk penjelasan makna dan apabila terdapat kutipan di “dalam” kutipan.
Bagaimana, nih, Sobat? Sekarang sudah enggak bingung lagi, kan, cara membedakan dua sejoli ini? Yuk, langsung terapkan di tugas kuliah, laporan organisasi, atau konten tulisan di media sosial Sobat agar semakin berkualitas, ya!
Sampai jumpa di Nulispedia edisi selanjutnya!
Penulis: Angely Puspita Sari