Oleh Prameswari Naqanayla (F1D024070), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

“Jika Anda menjumlahkan semua bentuk genosida, dari pembunuhan bayi perempuan dan mutilasi genital hingga apa yang disebut kejahatan kehormatan, perdagangan seks, dan pelecehan domestik, kita kehilangan sekitar 6 juta manusia setiap tahun hanya karena mereka dilahirkan sebagai perempuan.”

– Gloria Steinem.

Saya tidak akan pernah mengerti mengapa society kita sekarang, lebih memalukan ketika diperkosa daripada menjadi pemerkosa. Hak perempuan untuk hidup dengan tenang dan setara sedari dulu sangat mengkhawatirkan. Kebanyakan korban kekerasan seksual cenderung menutup diri dan bungkam karena takut dan malu. Korban cenderung merasa kotor dan tidak suci lagi, sedangkan para pelaku bisa hidup dengan nyaman tanpa efek trauma berkepanjangan.

Di mana letak keadilan jika setiap laporan kekerasan dan pelecehan hanya ditanggapi dengan upaya menyelesaikan secara kekeluargaan? Beberapa hal yang membuat saya marah adalah sering kali laporan perempuan mengenai catcalling tidak diindahkan. Haruskah para aparat menunggu perempuan diperkosa dan dibunuh untuk mengambil tindakan?

Dewasa ini, pelecehan dan kekerasan sudah pasti salah perempuan. Entahlah apa katanya, cara berpakaian dipermasalahkan, cara bicara yang mengundang, bahkan cara melirik bisa dianggap ajakan. Perempuan sulit sekali merasa aman, lagi pula mau ke mana lagi kita berlari kalau polisi, tempat akademi, dan kadang keluarga sendiri menjadi pelaku atau ikut menghakimi?

Sedari kecil, perempuan terbiasa mendengar, “Pakai rok panjang!”, “Pakai baju tertutup!”, katanya “Hati-hati ada laki-laki!”. Loh, bagaimana patriarki mau teratasi jika yang diedukasi hanya perempuan dan tidak laki-laki? Mbok ya Buk, Pak, anak laki-lakimu juga diajarkan untuk menghormati.

Problematika tentang perempuan selalu menyayat hati. Setiap perempuan melakukan kesalahan, masyarakat selalu menekan “Kamu itu perempuan!” tetapi sebaliknya, begitu laki-laki yang melakukan kesalahan, sudah umum kita mendengar, “Namanya juga anak laki-laki, tolong wajarkan”. Loh, standar ganda apa yang harus kita normalisasi?

Menjadi ironi bahwa sedari dulu yang perempuan tuntut hanyalah hak fundamental untuk hidup tanpa rasa takut. Saya terkadang bingung bagaimana para pelaku kekerasan dan pelecehan seksual tega melakukan aksinya ketika ibu mereka seorang perempuan? Mungkin saudara mereka juga perempuan atau bahkan mereka sendiri memiliki anak perempuan. Bagaimana mereka bisa tetap memandang perempuan sebagai objek?

Sangat tidak pantas melecehkan orang yang menciptakan peradaban. Saya merasa perlu adanya edukasi sejak dini kepada semua golongan (TIDAK HANYA PEREMPUAN) untuk sama-sama saling menjaga diri, saling menghormati, dan saling mengerti bahwa kadang ada isi pikiran dan isi celana yang harus disimpan sendiri.

Mari terus bersuara, terus bercerita, dan terus melawan ketidakadilan karena setiap suara berdampak, setiap perlawanan berharga. Hidup Perempuan Yang Melawan!