Oleh Salsabila Hunafa Qudsi (F1F024115)

Di era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi ruang utama bagi manusia untuk berinteraksi. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin mengkhawatirkan: cyberbullying. Sayangnya, praktik ini sering kali dianggap sebagai hal biasa, bahkan dinormalisasi dalam bentuk candaan, sindiran, atau “komentar jujur” yang sebenarnya menyakitkan.

Cyberbullying bukan sekadar interaksi negatif di dunia maya. Ia merupakan bentuk kekerasan digital yang berdampak nyata terhadap kondisi emosional dan psikologis seseorang. Kata-kata yang ditulis di layar mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi korban, hal tersebut dapat meninggalkan luka yang mendalam. Rasa cemas, kehilangan kepercayaan diri, hingga isolasi sosial menjadi konsekuensi yang tidak bisa dianggap sepele.

Ironisnya, anonimitas dan jarak dalam ruang digital sering membuat pelaku merasa tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Tanpa adanya kontak langsung, empati menjadi kabur. Banyak orang merasa bebas berkomentar tanpa mempertimbangkan dampaknya, seolah-olah dunia maya adalah ruang tanpa konsekuensi.

Lebih jauh, budaya digital saat ini juga turut berperan dalam memperparah situasi. Konten yang bersifat sensasional, provokatif, bahkan merendahkan orang lain kerap mendapat perhatian lebih besar. Hal ini secara tidak langsung mendorong pengguna untuk terus memproduksi dan mereproduksi perilaku serupa demi eksistensi serta validasi.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk mempertanyakan kembali: apakah ruang digital yang kita bangun sudah benar-benar aman? Ataukah justru kita secara tidak sadar ikut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang toksik?

Membangun ruang digital yang sehat tidak hanya menjadi tanggung jawab platform, tetapi juga setiap individu. Kesadaran untuk berpikir sebelum berkomentar, kemampuan untuk berempati, serta keberanian untuk tidak ikut dalam arus negatif adalah langkah sederhana yang memiliki dampak besar.

Pada akhirnya, etika dalam berinteraksi tidak berhenti di dunia nyata. Dunia digital juga membutuhkan nilai yang sama: rasa hormat, tanggung jawab, dan kemanusiaan karena di balik setiap akun, selalu ada manusia yang merasakan.