Category: Press Release

Aksi Wilayah Tolak Omnibus Law

Posted: 20 Agustus 2020
Comments: 0


Massa Aksi Wilayah Tolak Omnibus Law berangkat menuju titik aksi.




Yogyakarta, BEM Unsoed - Sebagai bentuk tekanan politik terhadap DPR RI yang terus melanjutkan pembahasan RUU Cipta Kerja Omnibus Law, BEM Unsoed yang tergabung dalam Aliansi BEM Seluruh Indonesia (SI) wilayah Jateng-DIY melakukan Aksi Wilayah Tolak Omnibus Law yang berlangsung di Yogyakarta pada Minggu (16/08).





Aksi Wilayah kali ini didominasi oleh ratusan mahasiswa yang sejak pukul 09.00 WIB sudah berkumpul di depan parkiran Abu Bakar Ali. Kemudian masa aksi mulai bergerak ke Titik Nol Kilometer Yogjakarta melalui Jalan Malioboro.





Orasi dimulai sejak long march sepanjang Jalan Malioboro hingga tiba di titik aksi, tepatnya di Titik Nol Kilometer Yogyakrata. Setibanya di titik aksi, orasi politik disampaikan bergantian oleh perwakilan tiap kampus. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, massa menggelar aksi dengan membawa sejumlah poster.





Disela-sela penyampaian orasi politik, hadir sebuah pentas teatrikal untuk menghibur para wisatawan yang berlalu-lalang. Sebelum massa aksi membubarkan diri, Upacara Rakyat diselenggarakan secara simbolik dengan menaikkan bendera setengah tiang sebagai bentuk duka cita terhadap RUU Cipta Kerja Omnibus Law yang terus kebut untuk segera dirampungkan oleh DPR RI.





Pentas seni teatrikal yang diselenggarakan disela-sela Aksi Wilayah Omnibus Law.




Masa aksi menyatakan sikap menolak disahkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja dengan beberapa point tuntutan yaitu:





  1. Menolak dengan tegas pengesahan RUU Cipta Kerja, karena bertentangan dengan UU No. 15 tahun 2019 Bab 2 pasal 5 dan Bab 11 pasal 96 tentang perubahan atas UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
  2. Menolak upaya sentralisasi kekuasaan melalui konsep Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang menciderai semangat reformasi.
  3. Menolak penyederhanaan regulasi terkait perizinan amdal dan aturan pertambangan yang mengancam kelestarian SDA jangka panjang serta mendesak untuk melaksanakan reforma agararia sejati.
  4. Menjamin kehadiran negara dalam terciptanya ruang kerja yang aman, bebas diskriminatif dan dapat memenuhi hak maupun perlindungan terhadap buruh.
  5. Menolak sentralisasi sistem pengupahan buruh, potensi maraknya tenagakerja outsourcing, serta dikebirinya hak-hak buruh seperti cuti, jam kerja tidak jelas, dan PHK sepihak
  6. Menolak sektor pendidikan dimasukkan ke dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan mendesak pemerintah menghentikan praktik liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi pendidikan serta wujudkan demokratisasi kampus.
  7. Menuntut pemerintah untuk memperbaiki kualitas kelembagaan nasional maupun daerah dan mengedepankan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan sebagaimana amanat UUD 1945.




Demonstrasi ini berjalan hingga malam, sehingga jalan menuju lokasi demonstasi juga masih dituutp hingga pukul 18.51 WIB. "Aksi ini merupakan bentuk konkrit edukasi [mengenai Omnibus Law] ke masyarakat, karena long march dari parkiran Abu Bakar Ali menuju Titik Nol Kilometer itu sepanjang Jalan Malioboro," ujar Afdhal Yuriz dari Kementerian Kajian dan Aksi Strategis BEM Unsoed.










Penulis: Dzaki Azhar





Editor: Chrisdian Provita Bella


Tags: ,

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.