Halo, Sobat Gensoed!

Minggu pertama UAS akhirnya terlewati. Semoga segala usaha dan perjuangan Sobat sejauh ini membuahkan hasil yang terbaik, ya!

Di tengah kesibukan mempersiapkan ujian berikutnya, tidak ada salahnya meluangkan waktu sejenak untuk melihat berbagai kabar dan isu yang sedang menjadi perhatian, baik di lingkungan Unsoed, Banyumas, maupun tingkat nasional. Yuk, langsung kita simak bersama!


Desak Tindak Lanjut Aspirasi: Mahasiswa Beri Tenggat Lima Hari Kepada Wapres untuk Realisasi Tuntutan

(sumber: okezone.com)

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menerima 15 perwakilan mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada hari Senin (15/06/2026). Pertemuan tersebut dilakukan setelah mahasiswa menyampaikan enam tuntutan kepada pemerintah melalui memorandum yang diserahkan secara langsung di Istana Wakil Presiden.

Apa saja, sih, enam tuntutan tersebut, Min?

Dalam memorandum yang diserahkan kepada Wapres, mahasiswa menyampaikan enam tuntutan utama. Tuntutan tersebut meliputi evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, peninjauan Undang-Undang Polri, penghentian militerisme, stabilitas nilai tukar rupiah, pemenuhan hak pendidikan yang terjangkau, serta pembatalan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Hahh … itu beneran dikasih waktu hanya lima hari?

Betul, Sob. Setelah pertemuan dengan Wapres selesai, perwakilan mahasiswa menyatakan akan memberikan tenggat waktu selama 5×24 jam kepada pemerintah untuk menindaklanjuti aspirasi yang telah disampaikan. Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Abdi Maludin, menegaskan bahwa apabila tuntutan tersebut tidak mendapatkan tindak lanjut yang jelas, mahasiswa siap kembali menggelar aksi lanjutan dalam skala yang lebih besar.

Terus, bagaimana respons langsung dari Wapres Gibran, Min?

Menurut perwakilan mahasiswa, Wapres Gibran menerima seluruh aspirasi yang disampaikan secara terbuka. Ia mencatat poin-poin dalam memorandum dan berjanji akan mengaudit serta mengonsolidasikan temuan mahasiswa untuk diteruskan kepada Presiden. Dalam keterangannya, Gibran juga mengakui bahwa masih terdapat berbagai kekurangan dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah yang perlu diperbaiki bersama. Sejumlah masukan mahasiswa, terutama terkait pemerataan Program MBG di daerah pelosok, dinilai menjadi bahan evaluasi yang penting bagi pemerintah.

Semoga berbagai aspirasi yang telah disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan yang lebih baik dan berdampak positif bagi masyarakat luas ya, Sob!


Kolaborasi Bersama UI dan Kemenlu RI! Mahasiswa Internasional Unsoed Kenalkan ASEAN ke Sekolah

(sumber: unsoed.ac.id)

Mahasiswa internasional Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) turut berpartisipasi dalam kegiatan Literasi ASEAN yang merupakan kolaborasi antara Unsoed, Universitas Indonesia (UI), dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Program ini bertujuan memperkenalkan ASEAN sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas ASEAN di kalangan generasi muda Indonesia.

Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam program ini?

Selama empat hari pelaksanaan, tim mengunjungi lima sekolah di Purwokerto, yaitu SMA Negeri 2 Purwokerto, SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah, SMK Telkom Purwokerto, SMP Karanglewas, dan SD IT Al Irsyad 02. Para siswa diajak mengenal ASEAN melalui berbagai metode pembelajaran interaktif, mulai dari permainan edukatif, kuis, puzzle, hingga kegiatan bernyanyi bersama sehingga materi dapat dipahami dengan lebih menyenangkan.

Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini?

Kegiatan ini melibatkan sembilan mahasiswa internasional Unsoed yang berasal dari berbagai negara, seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, Tanzania, Zimbabwe, Botswana, Afghanistan, Ghana, dan Tajikistan. Kehadiran mereka memberikan pengalaman belajar lintas budaya sekaligus mempererat interaksi dengan para pelajar di Purwokerto.

Lalu, apa tujuan dari kegiatan Literasi ASEAN ini?

Melalui program ini, para pelajar diharapkan tidak hanya mengenal ASEAN sebagai organisasi kawasan, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas regional yang saling terhubung. Dengan begitu, rasa kepedulian dan kebersamaan terhadap kawasan ASEAN dapat tumbuh sejak dini.

Wow, keren ya, Sobat! Selain belajar tentang ASEAN, para siswa juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa internasional dari berbagai negara.


Atasi Dampak Penutupan Jembatan Serayu, Warga Manfaatkan Perahu Kayu

(sumber: detik.com)

Penutupan total Jembatan Serayu Banyumas untuk keperluan perbaikan hingga 30 Juli 2026 membawa perubahan besar bagi mobilitas masyarakat. Bagi para pedagang, pelajar, hingga pekerja yang sehari-hari melintasi kawasan tersebut, perjalanan kini menjadi lebih menantang. Namun, di tengah kondisi tersebut, hadir sebuah solusi unik berupa perahu kayu swadaya milik warga yang membantu aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar.

Kok, bisa ada perahu kayu segala, Min?

Perahu tersebut merupakan milik seorang warga bernama Syamsudin yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut material pasir dan keperluan pribadinya di Sungai Serayu. Seiring berjalannya waktu, banyak warga yang membutuhkan akses serupa sehingga perahu tersebut akhirnya dimanfaatkan secara bersama-sama. Sejak Jembatan Serayu ditutup, perahu itu dialihfungsikan menjadi sarana penyeberangan yang menghubungkan Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, dengan Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas.

Wah, berarti perahu tersebut bisa mengangkut banyak muatan ya?

Tentu bisa, Sob. Dalam satu kali perjalanan, perahu tersebut mampu mengangkut hingga 20 penumpang dan sekitar 10 sepeda motor, lho! Dengan kapasitas tersebut, perahu menjadi pilihan yang cukup efektif bagi warga yang hendak berangkat ke pasar, sekolah, tempat kerja, maupun keperluan lainnya di seberang sungai.

Kalau begitu tarifnya pasti mahal ya, Min?

Justru sebaliknya, Sobat. Pak syamsudin tidak menetapkan tarif khusus bagi para pengguna jasanya. Ia hanya menerima pembayaran secara sukarela dari penumpang. Umumnya, pengendara motor memberikan sekitar Rp5.000 untuk sekali penyeberangan. Baginya, tujuan utama layanan ini adalah membantu masyarakat yang terdampak penutupan jembatan, bukan semata-mata mencari keuntungan.

Kreativitas dan kepedulian warga Banyumas kali ini patut diapresiasi, ya, Sob! Dari sebuah perahu pengangkut pasir, lahir solusi sederhana yang mampu membantu ratusan warga menghemat waktu agar tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.


Penulis: Febriane Prasella dan Hafshoh Sirin