Weekly Report #31

24 October 2026 • Oleh Media Kreatif dan Aplikatif • 3 menit baca

Halo, Sobat Gensoed!

Di tengah cuaca yang super terik dan musim kemarau yang masih betah ini, jangan lupa jaga kesehatan dan minum air putih yang cukup, ya, Sob! Biar harimu tetap sejuk. Mimin kembali hadir membawa kumpulan berita terpopuler sepekan ini. Selamat bersantai dan menikmati bacaan Anda!


Dua Tahun Prabowo-Gibran, Aliansi BEM Banyumas Raya Suarakan Tuntutan kepada Pemerintah

(Sumber: Media Kreatif dan Aplikatif)


Krisis Iklim hingga Karhutla: Greenpeace Soroti Nasib Pekerja Harian, Petani, dan Nelayan

(Sumber: Indoindikator.com)


Kelangkaan BBM Kembali Meroket! Kapasitas Pengawasan Pertamina Belum Menjadi Prioritas

(Sumber: RadarMedan.com)

Lautan kendaraan terlihat di berbagai daerah. Dalam dua minggu terakhir, antrean kendaraan di SPBU mengular hingga jalanan lumpuh total. Sulawesi Selatan, Jawa, dan Sumatera menunjukkan betapa buruknya kelola energi nasional dan lemahnya kapasitas institusi dalam menghadapi kritis.

Apa penyebab utama kelangkaan BBM di beberapa daerah tersebut?

Nah, jadi gini Sob! Krisis ini dipicu oleh lonjakan perpindahan BBM nonsubsidi menjadi bersubsidi (Pertalite dan Solar) di tingkat nasional. Dipengaruhi juga oleh terhambatnya proses pengiriman, sehingga membuat armada tidak berjalan normal dan adanya selisih antar kuota yang disediakan dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Bagaimana kondisi Stok BBM Nasional saat ini, min?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim bahwa ketersediaan stok bahan bakar minyak nasional masih aman untuk ketahanan 16-21 hari ke depan. Di mana stok cadangannya mencapai 1,51 juta Kilo Liter (KL) dengan konsumsi harian 84.038 KL, untuk BBM jenis Solar Subsidi ketahanan stoknya masih di 16,5 hari dengan stok nasional mencapai 1,57 juta KL dengan konsumsi harian mencapai 95.638 KL. Adapun untuk Pertamina DEX CN53 stoknya mencapai 64,5 hari. Kemudian khusus untuk Bahan Bakar avtur, stoknya ketahanan mencapai 28,1 hari dengan stok nasional mencapai 388.626 KL dan konsumsi harian mencapai 13.816 KL. Pemerintah juga sedang melakukan komunikasi dan pembangunan infrastruktur tambahan pada Mei mendatang.

Lalu, apakah ada? Langkah antisipasi jangka pendek dan jangka panjang yang harus disiapkan masyarakat dan pemerintah?

Pasti ada, dong! Institute for Essential Service Reform (IESR) mengatakan bahwa seluruh wilayah yang terdampak harus menambahkan volume sementara dan lakukan redistribusi antarterminal tiap hari. Lindungi dan utamakan juga penggunaan BBM untuk layanan publik kritis, seperti penyandang disabilitas, lanjut usia, ibu hamil dan menyusui, anak-anak, korban bencana juga masyarakat kurang mampu.

Selanjutnya, kepercayaan publik perlu dibangun agar tidak memicu pembelian berlebihan (panic buying), diiringi penindakan secara tegas. Pemulihan pasokan harus segera dilakukan dengan membenahi sistem subsidi dan tata kelola energi secara menyeluruh.

Yuk! lebih cerdas lagi dalam penggunaan BBM agar kuota subsidi dapat tepat sasaran dan krisis energi tidak terulang lagi!

Penulis: Aulia Intan Maharani & Fitriana Oktavia

PENULIS / KONTRIBUTOR

Media Kreatif dan Aplikatif

Diterbitkan pada 24 October 2026