Oleh: Bagus Hadikusuma, Menteri Koordinator Politik Pergerakan BEM Unsoed 2022
Saat ini, kehidupan di planet Bumi sudah tidak bisa mendapatkan ketenangan karena dihantui oleh monster yang mengancam, yaitu bencana ekologi dan ancaman wabah. Monster pertama, dewasa ini, sudah mulai menunjukkan taringnya melalui berbagai fenomena, seperti konsentrasi karbon dioksida yang meningkat mendorong terjadinya krisis iklim, pemanasan global, mencairnya es di Kutub Utara, hingga ancaman nyata bagi hadirnya kepunahan massal keenam. Sementara itu, monster yang kedua inilah, yang kini sedang menjadi momok menakutkan bagi seluruh umat manusia, yaitu wabah virus SARS-Cov-2. Pada awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya varian virus korona baru yaitu SARS-Cov-2 dan penyakit yang ditimbulkannya, disebut Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Diketahui bahwasanya, asal mula virus ini berasal dari pasar hewan di Wuhan, Tiongkok.
Ancaman nyata dari dua monster tersebut, yang bahkan sampai saat ini telah merenggut ratusan jiwa manusia, tidak lantas membuat sebagian besar dari kita waspada dan berupaya untuk menyelesaikan akar permasalahannya. Terlebih, kematian dan ancaman yang ditimbulkan akibat bencana ekologi dan wabah tidak dapat pula mendorong seluruh umat manusia secara kolektif segera bersolidaritas, baik dalam duka dan dalam semangat untuk mendorong perubahan. Asal usul hadirnya bencana ekologi dan Covid-19 berada di jantung ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi ini akan terus membawa Bumi menuju kehancurannya dan mendorong wabah untuk menjadi lebih dekat dengan kehidupan manusia. Dalam sejarah panjang planet Bumi, hanya pada era kapitalisme terjadi kerusakan ekologi secara besar-besaran. Data pun memperlihatkan bahwa hilangnya tutupan pohon (tree cover loss) secara global, yang meliputi hutan primer, hutan sekunder dan pemanenan siklus hutan tanaman, naik dari rata-rata 17,1 juta hektar per tahun di tahun 2000-an menjadi 23,1 juta pada tahun 2010-an. Peningkatan ini mencerminkan deforestasi di hutan alam dan di dalam area perkebunan yang luas, sebagian besar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara (Butler, 2020).
Di tengah ancaman yang sedang menghantui, tidak ada tempat bagi kita untuk lari dari permasalahan tersebut. Kita harus menghadapi setiap tindakan yang berusaha untuk menghancurkan planet ini dan efek negatifnya yang mempermudah hidup kita direnggut kapan saja oleh wabah. Solusi terhadap masalah ekologi yang disebabkan oleh sistem kapitalisme hanya dapat dicapai dengan mengganti sistem tersebut dengan sistem ekonomi alternatif, yaitu sistem ekonomi ekososialisme.
Ekososialisme adalah jalan keluar dari bencana ekologi dan ancaman wabah yang dilahirkan oleh sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini disebabkan karena ekososialisme menghubungkan kembali kehidupan manusia dengan metabolisme alam. Bagi Marx, alam memiliki sistem metabolisme untuk terus menerus berevolusi dan bergerak terus menerus. Di tengah kemajuan zaman dan teknologi yang diciptakan oleh manusia serta seiring dengan sistem ekonomi bebas yang dijalankan oleh dunia, kerja manusia di bumi kemudian sangat menentukan metabolisme alam (Marx, 2016). Kerusakan metabolisme alam berarti ancaman bagi kehidupan manusia. Ekososialisme sendiri memiliki visi besar, yaitu terwujudnya masyarakat sosialis yang berkomitmen pada prinsip-prinsip dan praktik kelestariaan ekologis. Visi ini diturunkan dari kritik mendasar atas sistem kapitalisme yang tidak sama sekali memiliki visi kelestarian. Ekososialisme didasarkan pada ekonomi yang ditransformasikan dan dilandaskan pada nilai-nilai non-moneter keadilan sosial dan keseimbangan ekologis.
Ekososialisme hadir sebagai suatu alternatif jalan keluar yang mempercayai kemampuan masyarakat untuk saling bekerja sama dalam membangun kemandirian ekonomi suatu komunitas atau negara yang berbasis pada pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan dan penggunaan teknologi yang tidak merusak lingkungan. Ekososialisme mengambil posisi sebagai preservasionis yang menekankan prioritas kebutuhan pada keterbatasan sumber daya alam ketimbang pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan suatu sistem sosio-ekonomi yang terdesentralisasi (Turner, 1988). Secara praksis, manifesto ekososialisme yang digaungkan di Paris pada September 2001 patut disambut. “Tujuan ekososialis adalah transformasi kebutuhan dari dimensi kuantitatif menuju dimensi kualitatif. Dimensi kuantitatif berarti pengukuran capaian keberhasilan dengan melihat akumulasi nilai atau pertumbuhan. Sedangkan dimensi kualitatif dapat dimaknai sebagai pengembalian fungsi ekologis serta perbaikan hubungan-hubungan di antara manusia yang menjaga hak alam. Dari soal corak produksi, hal itu berarti valorisasi nilai pakai dari nilai tukar” (Kovel, J., & Lowy, 2002).
Mengapa sistem ekososialisme menjadi jalan keluar terhadap bencana ekologi dan ancaman wabah? Karena, dalam praksisnya, sistem ekososialisme berkaitan dengan upaya regenerasi komunitas-komunitas yang dikelola dengan prinsip kemandirian. Ekososialisme juga menentang corak produksi ala kapitalisme yang memiliki dampak destruktif bagi metabolisme alam karena sistemnya yang berprinsip akumulasi keuntungan. Jika kita kaitkan dengan apa yang terjadi di lapangan, seperti program reboisasi atau program pelestarian lingkungan lainnya yang digalakkan oleh pemerintah, program-program ini nyatanya tak sebanding dengan skala perusakan alam oleh industri kapitalisme yang dilegalisasi oleh kebijakan pemerintah itu sendiri. Walaupun pemerintah telah menetapkan kebijakan teknokratis macam corporate social responsibility (CSR) perusahaan dan mekanisme analisis dampak lingkungan (AMDAL), tetapi perusahaan kerap mengabaikannya. Pemerintah Indonesia dengan kapitalisme mengizinkan operasi perusahaan kelapa sawit dengan skala luas 10,2 juta ha tahun 2014 (sebelas kali lipat luas Pulau Bali atau setengah Pulau Jawa) hanya untuk lima grup perusahaan raksasa yaitu Sinar Mas, Salim, Jardine Matheson, Wilmar dan Surya Damai (Anjangi, 2015).
Bencana ekologis dan ancaman wabah ialah dua momok yang menakutkan untuk peradaban manusia kedepannya. Akan tetapi, hal tersebut dapat kita cegah jika kita bisa bersolidaritas untuk melakukan perubahan yang revolusioner dengan merubah sistem ekonomi yang kita jalankan dari sebelumnya sistem kapitalisme “sang penghancur alam” menjadi sistem ekososialisme yang dapat menjaga stabilitas metabolisme alam.
Oleh karena itu, saat ini, di kondisi pandemi, penting bagi generasi muda untuk memahami dan mengimplementasikan sistem ekososialisme dari komunitas terkecil seperti tingkat desa. Dengan pemahaman dan penerapan ekososialisme, ada kemungkinan kita bisa terlepas dari dua monster yang akan menghantui, yaitu bencana ekologi dan ancaman wabah. Ekososialisme jelas bertujuan untuk mentransformasi kebutuhan menjadi suatu hal bersifat kualitatif bukan kuantitatif. Ekososialisme juga berprinsip bahwa metabolisme alam harus tetap dijaga sedemikian rupa. Sedangkan, cara kerja kapitalisme dapat menyebabkan kerusakan lingkungan karena sejak awal sistem tersebut memiliki kontradiksi ekologis. Degradasi ekologis tidak mungkin dihentikan tanpa mengakhiri kapitalisme. Sudah saatnya kita berdamai dengan bumi sebelum semuanya terlambat, sudah saatnya kita menarik rem sebelum kereta yang kita tumpangi terjun bebas menuju jurang kehancuran (Wallace, 2020).
DAFTAR PUSTAKA
Anjangi, L. (2015). 25 Raksasa Kuasai Separuh Lahan Sawit. Katadata.Co.Id, 1.
Butler, R. A. (2020, June 13). Berapa Banyak Hutan Dunia yang Telah Menghilang dalam Satu Dekade ini? Mongabay.
Kovel, J., & Lowy, M. (2002). An ecosocialist manifesto. Capitalism Nature Socialism, 13(1; ISSU 49), 1–2.
Marx, K. (2016). Teks-teks Kunci Filsafat Marx (M. Suryajaya (ed.)). Resist Book.
TURNER, J. H. (1988). A Behavioral Theory of Social Structure. Journal for the Theory of Social Behaviour, 18(4), 355–372. https://doi.org/doi:10.1111/j.1468-5914.1988.tb00505.x
Wallace, R. (2020). Matinya Epidemiolog Ekspansi Modal dan Asal Usul Covid 19. Monthly Review Press.
http://propeciabestprice.pro/# cost generic propecia pills