Category: BETTER : BEM Newsletter

BETTER #145 : Empat Vaksin Corona Tersandung Isu Miring

Posted: 15 April 2021
Comments: 0


(Sumber: detikcom)




Isu apa kuwe, Lur?





Jadi gini Lur, akhir-akhir ini akeh isu miring tentang vaksin-vaksin COVID-19 seperti pembekuan darah sing menerpa AstraZeneca dan Johnson & Johnson, hingga kematian sejumlah lansia usai vaksin Pfizer beberapa waktu silam.





Wah medeni juga yaa ...





Eits, jangan panik disit Lur, tidak semua isu miring kuwe bisa dibuktikan atau terkonfirmasi kebenarannya. Bahkan sebagian isu tersebut merupakan hasil salah paham yang berujung pada berita hoax. Tapi Lur, memang ada sejumlah negara yang memaksa menghentikan sementara penggunaan vaksin tertentu karena khawatir terhadap isu yang beredar.





Coba jelasna dong apa bae isu-isu kuwe!





Oke, mari kita bahas satu-satu,





  1. Yang pertana yaitu Sinovac. Baru-baru ini, China mengakui rendahnya vaksin COVID-19 buatannya. Nah, kabar ini akhirnya menimbulkan keraguan terhadap vaksin-vaksin lain buatan China. Namun, Kepala Pusat Pengendali Penyakit China (CDC) menegaskan bahwa hal kuwe adalah kesalahpahaman. FYI, Sinovac adalah salah satu produk vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, loh. Tapi tenang Lur, karena berdasarkan hasil uji klinis di Unpad, vaksin Sinovac masih cukup efektif untuk menekan laju penularan virus.
  2. Selanjutnya adalah AstraZeneca. Bukan kabar baru, bahkan 15 negara di Eropa menangguhkan penggunaan vaksin ini. Pembekuan darah yang terjadi setelah proses vaksinasi adalah alasan mengapa vaksin ini ditangguhkan. Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) juga telah menetapkan kasus pembekuan darah sebagai efek samping dari vaksin ini. Meski begitu, vaksin AstraZeneca tetap digunakan di Indonesia karena nihil laporan pembekuan darah di Indonesia, serta faktor manfaat yang lebih besar dibanding risikonya.
  3. Ketiga, ada Pfizer. Pada Januari 2021, Direktur Medis Badan Obat Norwegia Steinar Madsen melaporkan puluhan lansia di Norwegia meninggal setelah disuntik vaksin Pfizer. Namun sudah dijelaskan, bahwa kasus ini hanya terjadi pada kelompok kecil lansia. Mengingat tingginya urgensi kebutuhan vaksin COVID-19, penggunaan vaksin Pfizer tetap dilakukan.
  4. Vaksin Johnson & Johnson adalah yang terakhir kita bahas. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) merekomendasikan penundaan sementara penggunaan vaksin Johnson & Johnson. Alasannya sama seperti AstraZeneca, sejumlah penerima vaksin dilaporkan mengalami efek samping pembekuan darah. Vaksin kiye menggunakan virus tidak berbahaya sebagai 'pengantar' materi genetik virus penyebab COVID-19 pada sistem kekebalan tubuh.









Penulis : Ammatulloh Nur Bhaethy


Tags: , ,

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.