Halo, Sobat Gensoed! Apa kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu, ya.
Mimin kembali menyuguhkan tulisan bermanfaat untuk sobat Gensoed semua, nih. tapi kali ini berbeda, lho!
Medkraf BEM Unsoed eksklusif menyajikan Nulispedia sebagai ajang berbagi kepada Sobat Gensoed tentang bahasa Indonesia dan tata bahasanya. Sudah siap belajar bersama? Yuk kita bahas!
Sering kita jumpai kalimat dengan bentuk seperti ini:
- Saya mendengar kabar bahwa Nana sakit. Tetapi, ia tetap berangkat sekolah.
- Masakan ibu terasa hambar. Karena ibu lupa memberi garam.
- Ruang kelas yang baru terlalu sempit. Sehingga membuat siswa tidak nyaman dalam belajar.
“Memang dari tulisan di atas ada yang aneh, Min?”
Jelas, dong, Sobat. Mimin kasih tau, ya. Jadi, tiga kalimat di atas adalah bentuk konjungsi kurang tepat yang sering digunakan oleh sebagian besar dari kita pada kehidupan sehari-hari, baik ragam formal maupun nonformal. Penggunaan konjungsi di atas disebut ‘kurang tepat’ karena konjungsi tidak dapat diletakkan diawal kalimat.
“Alasannya kenapa, Min?”
- Pada contoh pertama, penggunaan konjungsi tetapi tidak dapat diletakkan di awal kalimat karena berfungsi untuk menyatakan pertentangan yang digunakan di antara dua kata sifat yang kontradiktif dan letaknya ditengah kalimat.
- Pada contoh kedua, penggunaan konjungsi karena tidak dapat diletakkan di awal kalimat karena berfungsi untuk menghubungkan pernyataan alasan sebagai keterangan dan letaknya di tengah kalimat.
- Pada contoh ketiga, penggunaan konjungsi sehingga tidak dapat diletakkan di awal kalimat karena berfungsi untuk menyatakan akibat dan letaknya di tengah kalimat.
Oleh karena itu, penulisan yang tepat seharusnya seperti ini:
- Saya mendengar kabar bahwa Nana sakit, tetapi ia tetap berangkat sekolah.
- Masakan ibu terasa hambar, karena ibu lupa memberi garam.
- Ruang kelas yang baru terlalu sempit, sehingga membuat siswa tidak nyaman dalam belajar.
Selain penggunaan konjungsi, Mimin juga mau sharing tentang penggunaan huruf kapital yang juga seringkali keliru, nih! Ada apa saja ya? Yuk, simak!
- pulau Bali
- “Saya bisa pergi sendiri, pak!“
- Wakil presiden Ma’ruf Amin
Terlihat tidak nyaman bukan jika melihat kalimat yang tidak sesuai dengan pedoman huruf kapital? Yap, pastinya sangat tidak nyaman, karena jika keliru dengan penempatan huruf kapital, maka orang akan bingung suatu kata ditujukan sebagai awal kalimat atau bukan? Suatu kata merupakan nama tempat atau sekedar kata-kata biasa? Juga bisa karena alasan lainnya.
“Kenapa lagi alasannya, Kak?”
- Pada contoh pertama, penggunaan kata yang diikuti unsur geografi didalamnya, hendaknya menggunakan huruf kapital.
- Pada contoh kedua, penggunaan kata yang memiliki unsur hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak, adik, serta ungkapan lain yang digunakan untuk penyapaan atau pengacuan terhadap seseorang harus menggunakan huruf kapital.
- Pada contoh kedua, penggunaan huruf kapital untuk jabatan berlaku apabila jabatan tersebut diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Oleh karena itu, penulisan yang tepat seharusnya seperti ini:
- Pulau Bali
- “Saya bisa pergi sendiri, Pak!“
- Wakil Presiden Ma’ruf Amin
Nah, sekarang sudah tahu, kan? Mulai sekarang, yuk biasakan menempatkan konjungsi dan menggunakan huruf kapital yang tepat agar terlihat lebih professional!